• Home
  • Poems
  • Blog
  • Stories
    • Category
    • Category
  • Psy Talks
instagram soundcloud Email

Qorina Sahudi

"Thoughts, Stories and Memories.."

Assalamu'alaikum pembaca setianya Qorin yang luar biasa..
Sebelumnya Qorin sudah membahas "Normal dan Abnormal" dan kali akan membahas mengenai "Perspektif Perilaku Abnormal". Qorin akan memberikan sedikit gambaran mengenai konsep perilaku abnormal dalam 4 perspektif yaitu psikoanalisa, humanistik, behavioristik, and kognitif. 

1. Perspektif Psikoanalisa

Bagi Freud, alam bawah sadar merupakan faktor penting penentu tingkah laku manusia dibandingkan alam sadarnya. Freud percaya bahwa berbagai bentuk abnormalitas diakibatkan oleh dorongan yang kuat atau insting id, yang mengawali tahap perkembangan konflik-konflik yang tidak disadari yang terkait dengan tahap perkembangan psikoseksual tertentu. 

Semisal, seorang gadis yang takut pada kekotoran dan secara obsesif membersihkannya. Hal ini dapat ditelusuri pada tahap anal, ketakutan pada keteratirkannya di masa kecil terhadap tinjanya yang berserakan., mungkin diakibatkan oleh orang tuanya yang sangat ketat dan tidak suka atau jijik ketika dia melakukan toilet training.
Jadi pada perspektif ini abnormalitas bisa saja terjadi karena adanya pengaruh ketidaksadaran dalam perilaku, pengalaman-pengalaman masa kecil yang membentuk kepribadian di masa dewasa, juga adanya penggunaan mekanisme pertahanan untuk mengontrol kecemasan atau stres.

2. Perspektif Humanistik

Dalam perspektif ini untuk memahami tingkah laku seseorang sangat penting melihat atau mengalami dunia dari segi pandangannya sendiri karena tingkah lakunya disebabkan oleh pilihan sadarnya dan pilihannya itu dipengaruhi oleh persepsi pribadinya tentang situasi. 
Source : Pixels
Adapun hambatan yang menjadi penyebab gangguan dalam perilaku menurut perspektif ini yaitu :
1. Penggunaan mekanisme pertahanan diri yang berlebihan 
2. Kondisi sosial yang tidak menguntungkan.
3. Stres yang berlebihan.

Menurut Rogers, perilaku abnormal adalah hasil dari perkembangan self-concept yang terganggu. Sedangkan Maslow berpendapat apabila manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya maka akan terjadi perilaku abnormal.

3. Perspektif Behavioristik

Dalam perspektif behavioristk, abnormalisats berasal dari kebiasaan-kebiasaan maladaptive yang terus-menerus dilakukan baik melalui : classical conditioning, operant conditioning, dan modelling. Skinner berpendapat bahwa kebebasan memilih adalah mitos, dan semua perilaku ditentukan oleh berbagai penguat yang tersapat di lingkungan. Misalanya, ketika seorang anak memukul temannnya untuk mempertahankan mainannya. Orang tua si anak tanpa disadari menguatkan agresi dengan mengalah ketika anak marah dan melakukan kekerasan untuk mencapai tujuannya, seperti tidur larut malam untuk menonton tv. Nah, renspons-renspon agresif pada anak inilah seringkali diberi penghargaan, yang membuat kemungkinan di masa depan muncul renspon agresif yang lebih besar.

Sedangkan contoh perilaku abnormal dalam modeling, seperti, anak-anak dari orang tua yang memiliki masalah penyalahgunaan zat. Maka anak-anak tersebut dapat memiliki pola perilaku yang sama yang tak lain diperoleh melalui pengamatannya.  Jadi, perilaku abnormal menurut perspektif ini merupakan hasil dari perilaku yang bertahan disebabkan berbagai kejadian hadiah atau hukuman yang mendorong pola respon yang bermasalah. 

4. Perspektif Kognitif

Dalam perspektif kognitif menjelaskan tingkah laku abnormal berdasarkan pikiran- pikiran yang keliru dan proses-proses pikiran yang kalut (Beck & Emery, 1985). Biasanya masalah-masalah yang berkenaan dengan pikiran dianggap sebagai simtom-simtom dari gangguan-gangguan psikologis, tetapi dalam pandangan kognitif, pikiran-pikiran itu dilihat sebagai penyebab dari gangguan-gangguan itu. 

Masalah-masalah dengan isi kognitif (pikiran-pikiran) adalah masalah-masalah dengan apa yang dipikirkan. Bila kita memiliki informasi yang salah tentang suatu situasi, maka respons kita terhadap situasi itu juga mungkin salah atau abnormal.

Source : Pixels
Para ahli teori berpendapat bahwa banyak tipe gangguan mental disebabkan oleh masalah-masalah yang menyangkut isi kognitif. Misalnya, seorang individu mengalami depresi karena ia berpikir ”aku adalah seorang yang tidak berharga”, atau mungkin bila teman-teman berpendapat bahwa seekor ular kecil yang tidak berbisa adalah berbahaya, maka teman-teman akan mengadakan respons dengan suatu ketakutan abnormal (menderita suatu fobia). Contoh-contoh ini menggambarkan cara-cara bagaimana isi kognitif yang salah bisa menimbulkan suatu penilaian yang salah terhadap suatu situasi dan pada akhirnya menimbulkan tingkah laku abnormal.

Terkadang kita semua bertingkah laku secara tidak tepat karena kita melebih-lebihkan makna dari suatu peristiwa, membiarkan perhatian kita hilang, atau membuat kesalahan asosiatif yang menyebabkan kesalahpahaman. Jika benar bahwa tingkah laku kognitif dari orang-orang yang kacau hanya merupakan hal- hal yang ekstrem dari tingkah laku kognitif yang terlihat pada orang-orang normal, maka pengetahuan kita yang luas tentang tingkah laku kognitif dari orang-orang yang normal dapat digunakan untuk memahami tingkah laku abnormal.

So, bagaimana fellas? 
Qorin, berharap teman-teman bisa memahami bagaiamana konsep perilaku abnormal dari 4 perspektif diatas.
Sampai bertemu ditulisan selanjutnya❤
Stay safe, stay healthy, and stay happy!


Reference :
1. Markam, Suprapti Slamet I. S. Sumarmo. 2003. Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta: Penerbit UI Press.
2. Davison, Gerald C, John M. Neale & Ann M. Kring 2006. Psikologi Bbnormal Edisi ke-9. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Sunrise, Cairo, Egypt (2020)
Saat itu,
kita,
mengkilas balik 2011.

Lalu kau memotretku,
diam-diam tanpa perbincangan,
segera ku raih air minum.

Saat ini,
yang tak lain,
dan terpenting,
adalah menimba ilmu.

Sore ini,
kau, 
memberi sunrise,
padaku.

Its simple thing,
But I love the beautiful tones with.

Banyuwangi,
#TulisanQorin













Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Masih dalam topik psikologi nih, kali ini Qorin akan membahas "Normal dan Abnormal". Teman-teman juga dapat membaca pembahasan topik lainnya yang berkaitan dengan psikologi pada kategori "Psy Talks". 


Di kehidupan sehari-hari, tentunya kita menjumpai perilaku-perilaku yang mungkin membuat kita bertanya-tanya "apakah perilaku tersebut masih normal yaa?" atau mungkin ada yang menanyakan pada dirinya sendiri karena perilaku yang dianggapnya berbeda, "apa aku masih normal atau jangan-jangan abnormal nih?". Misalnya, ada seorang ibu selalu mengeluh karena anak-anaknya yang sudah remaja dan duduk dibangku SMA tidak ada yang peduli dengan pekerjaan di rumah. Setiap pulang sekolah langsung masuk ke kamar masing-masing dan sibuk dengan dunianya sendiri. Bahkan si Ibu ini harus menyindir dahulu, terkadang juga ketika bersih-bersih dapur ada saja barang yang sengaja dibanting yang tak lain tujuannya agar anak-anaknya peka dalam membantu pekerjaan di rumah. Menurut si Ibu, anak-anaknya tersebut tidak ada rasa tanggung jawab sama sekali dalam membantu pekerjaan rumah. Kira-kira menurut teman-teman, apakah perilaku anak-anak tersebut normal? atau malah sebaliknya?

Nah, sebelum menjawab pertanyaan tersebut. Qorin akan menjelaskan terlebih dahulu apa itu perilaku normal dan abnormal.

Perilaku Normal

Prilaku normal sendiri merupakan perilaku yang konsisten dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya. Perilaku normal ini juga merupakan perilaku yang diharapkan atau sesuai dengan situasi.
Untuk mengetahui apakah perilaku-perilaku disekitar kita normal atau tidaknya. Terdapat 2 pendekatan yang berbeda sebagai pedoman mengenai perilaku yang normal, yaitu : 

1. Pendekatan Kuantitatif
Sifatnya berdasarkan sering atau tidaknya sesuatu terjadi, yang diperkirakan secara subjektif mengikuti pemikiran awam. Misalnya, pria berambut gondrong saat ini adalah hal yang normal untuk masa kini. Kalau kita semakin sering melihat pria berambut gondrong, maka kita akan menganggap bahwa itu adalah hal yang normal. Tapi jika semakin jarang kita melihat hal tersebut, maka kita mengganggap hal itu adalah suatu yang abnormal. 

2. Pendekatan Kualitatif
Untuk pendekatan ini menggunakan pedoman-pedoman yang normatif, yang tidak berdasarkan perhitungan atau pemikiran awan. Jadi pendekatan ini atas observasi empirik pada tipe-tipe ideal seperti di bidang biologis atau bidang kultural-sosial. Misalnya, orang-orang di Jawa yang makan daging sapi dianggap sebagai sesuatu yang normal. Namun bila hal tersebut dilakukan oleh orang-orang di Bali atau yang beragama Hindu, hal itu menjadi sesuatu yang dianggap abnormal.  Karena kulturnya mereka tidak makan makanan yang dari daging sapi.  Jadi pada pendekatan ini, pedoman normatif sangat terikat dengan keadaan sosial budaya.

Perilaku Abnormal

Abnormal sendiri berarti tidak normal, atau perilaku menyimpang dari suatu standard yang bisa saja diatas normal atau di bawah normal. Jadi jika seorang individu menujukkan suatu yang berbeda, tidak mengikuti aturan yang berlaku, mengganggu dan tidak tidak dapat dimengerti dengan kriteria yang biasa, maka tingkah laku tersebut dianggap abnormal. 

Ada beberapa karakteristik yang dianggap sebagai komponen perilaku abnormal, yaitu :

1. Kejarangan Statistik
Salah satu aspek perilaku abnormal adalah karena perilaku tersebut jarang ditemukan.

2. Pelanggaran Norma
Karakteristik lain yang dipertimbangkan dalam menentukan abnormalitas adalah apakah perilaku tersebut melanggar norma sosial atau mengancam atau mencemaskan bagi orang lain yang mengamatinya. Selain itu keragaman budaya dapat mempengaruhi bagaimana orang-orang memandang norma sosial  dalam suatu budaya mungkin dianggap abnormal dalam budaya lain.

3. Distress Pribadi
Tekanan pribadi yaitu, perilaku dinilai abnormal jika menciptakan tekanan dan siksaan besar pada orang yang mengalaminya. Dan tidak semua bentuk distress masuk dalam abnormalitas sebagai contoh, kelaparan atau rasa sakit setelah melahirkan.

4. Disabilitas atau Disfungsi Perilaku
Disabilitas, yaitu ketidakmampuan individu dalam beberapa bidang penting dalam hidup (misalnya, hubungan kerja atau pribadi) karena abnormlitas, juga dapat menjadi komponen perilaku abnormal. Tapi tentu tidak semua disabilitas masuk dalam abnormalitas, misalnya teman-teman memiliki tubuh pendek dan ingin menjadi pemain bola basket profesional. Tentu hal tersebut tidak termasuk abnormalitas.

5. Yang tidak Diharapkan (Unexpectedness)
Distress dan disabilitas sering kali dianggap abnormal apabila hal tersebut merupakan respon yang tidak diharapkan terhadap stresor lingkungan (Wakefield, 1992). Sebagai contoh, gangguan anxietas didiagnosis bila kecemasan tidak diharapkan dan diluar proporsi dalam situasi, sebagaimana bila seseorang selalu cemas akan situasi keuangannya.

Nah, kembali pada permasalahan yang diatas. Apakah anak-anak tersebut bertingka laku normal atau abnormal? Tentunya anak-anak yang demikian cukup banyak di kehidupan masa kini. Jika dalam prestasi sekolah dan hubungan antarmanusia selain di rumah tidak ada hal-hal yang mengganggu, maka secara pendekatan kuantitatif dapat dianggap normal meski tidak ideal. Tapi bukan  berarti perilaku anak-anak tersebut tidak perlu diubah yaa.

Jadi yang perlu digaris bawahi untuk penilaian apakah suatu tingkah laku dapat disebut normal atau abnormal harus dipertimbangkan baik menggunakan kriteria kuantitatif ataupun kualitatif. Pun dalam karakteristik yang dianggap sebagai komponen perilaku abormal.

Teman-teman juga bisa melihat video dibawah ini untuk menambah pengetahuan mengenai  perbedaan normal dan abnormal.

Sampai bertemu ditulisan selanjutnya❤
Stay safe, stay healthy everyone!

#PsikologiKlinis
Qorina Choirun Nisa'  S  (1511900170)


Reference :
1. Markam, Suprapti Slamet I. S. Sumarmo. 2003. Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta: Penerbit UI Press.
2. Davison, Gerald C, John M. Neale & Ann M. Kring 2006. Psikologi Bbnormal Edisi ke-9. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.



Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Apa kabar teman-teman semua? Semoga sehat selalu dimanapun kalian berada. Amiin
Karena pekuliahan semester 3 sudah dimulai. Kali ini Qorin akan menulis pembahasan yang berbeda dari biasanya yaitu mengenai topik yang berkaitan dengan psikologi. Mulai sekarang hingga kedepannya nanti topik-topik yang berkaitan dengan psikologi tersebut akan masuk kategori "Psy Talks". Nah, untuk topik pertama yang akan dibahas kali ini yaitu mengenai "Adjustment".

Di masa pandemi saat ini, tentu membawa banyak perubahan bagi hidup kita. Yang awalnya kuliah datang ke kampus bertemu secara langsung dengan teman-teman dan dosen, sekarang harus belajar di rumah secara daring. Awalnya jarang menggunakan masker ketika melakukan aktivitas di luar rumah, sekarang masker merupakan benda yang wajib digunakan. Awalnya jarang menjaga kebersihan, sekarang selalu sedia hand sanitizer kemanapun kita pergi. Tentunya di awal masa pandemi, hal-hal yang tidak biasa tersebut mungkin membuat kita merasa stress bukan? Tapi dengan seiringnya waktu, kita menjadi terbiasa. Hal ini bisa saja terjadi karena ada penyesuain diri kita dalam menghadapi situasi pandemi saat ini.
Source : thquint.com
Memang, kita sebagai individu tidak selamanya akan berhasil dalam melakukan penyesuaian diri karena ada rintangan ataupun hambatan yang kita lalui baik dari diri kita ataupun dari luar. Jika kita berhasil menyesuaikan diri tentunya kita akan bahagia dan merasa puas. Pun sebaliknya, jika kita tidak berhasil atau gagal dalam menyesuaikan diri akan merasa ketidakpuasan dan merasa kekecewaan.

Adjustment adalah..

Adjustment atau penyesuaian sendiri merupakan kemampuan individu dalam menghadapi tuntutan-tuntutan yang bersumber baik dari dalam diri maupun dari lingkungan sosial demi tercapainya keseimbangan dan terpenuhinya kebutuhan diri dengan baik. Mereka yang berhasil menyesuaikan diri disebut Adjusted Person, dan yang gagal menyesuaikan diri disebut Mal-adjusted Person.

Menurut Semiun, penyesuaian diri itu sendiri tidak bisa dikatakan baik atau buruk. Semiun mendefinisikannya dengan sangat sederhana, yaitu suatu proses yang melibatkan respons-respons mental dan tingkah laku yang menyebabkan individu berusaha menanggulangi kebutuhan-kebutuhan, tegangan-tegangan, frustrasi-frustrasi, dan konflik-konflik batin serta menyelaraskan tuntutan-tuntutan batin ini dengan tuntutan-tuntutan yang dikenakan kepadanya oleh dunia di mana ia hidup. 

Apa Saja Bentuk Mekanisme Adjustment ?

Moh. Surya (1985 : 27) mengemukakan bahwa bentuk mekanisme penyesuaian ciri dikelompokan kedalam kategori sebagai berikut :
1. Penyesuaian diri yang normal (well adjustment)
yaitu individu yang berhasil melakukan penyesuaian diri dengan lingkungannya. Penyesuaian diri yang normal ditandai dengan : (1) tidak menunjukan adanya ketegangan emosional, (2) tidak menunjukan adanya mekanisme-mekanisme psikologis, (3) tidak menunjukan adanya frustasi pribadi, (4) memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri, (5) mampu dalam belajar, (6) menghargai pengalamannya, (7) bersikap realisasi dan objektif.

2. Penyesuaian diri yang salah (maladjustment) 
yaitu terjadi apabila individu bersangkutan tidak dapat melakukan atau gagal dalam penyesuaian diri secara normal. Maladjusment ditandai dengan berbagai bentuk tingkah laku yang salah, tidak terarah, emosional, sikap yang tidak ralistis, agresif dan sebagainya.

3. Penyesuaian yang patologis (pathologic adjustment) 
yaitu penyesuaian yang lebih parah daripada maladjustment (sebagai kelanjutan), individu tidak memperoleh penyelesaian yang memuaskan sehingga melakukan reaksi yang patologis. Bersifat patologis karena individu memerlukan perawatan atau penanganan dengan bantuan ahli jiwa. 

Lalu, Bagaimana Penyesuaian Diri yang Dikatakan Berhasil?

Penyesuaian diri yang berhasil menurut Surachmad  ( dalam Siti Sundari 2005) adalah :
1. Bilamana dengan sempurna memenuhi kebutuhan, tanpa melebihkan yang satu dan mengurangi yang lain.
2. Tidak mengganggu manusia lain dalam memenuhi kebutuhan yang sejenisnya.
3. Bertanggung jawab terhadap masyarakat dimana ia berada (saling menolong secara positif).

Sedangkan menurut Semiun menjelaskan bahwa orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik adalah orang yang memiliki respons-respons yang matang, efisien, memuaskan, dan sehat. Sebaliknya, orang yang neurotik adalah orang yang sangat tidak efisien dan tidak pernah menangani tugas-tugas secara lengkap. Istilah "sehat" berarti respons yang baik untuk kesehatan, yakni cocok dengan kodrat manusia, dalam hubungannya dengan orang lain dan dengan tanggung jawabnya.

Kesehatan merupakan ciri yang sangat khas dalam penyesuaian diri yang baik. Singkatnya, meskipun memiliki kekurangan-kekurangan kepribadian, orang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik dapat bereaksi secara efektif terhadap situasi-situasi yang berbeda, dapat memecahkan konflik-konflik, frustrasi-frustrasi, dan masalah-masalah tanpa menggunakan tingkah laku simtomatik.

Hubungan Penyesuaian Diri dan Kesehatan Mental

Tentu ada hubungan yang jelas antara konsep penyesuaian diri dan kesehatan mental, tetapi hubungan tersebut tidak mudah ditetapkan. Kesehatan mental merupakan kondisi yang sangat dibutuhkan untuk penyesuaian diri yang baik, dan demikian juga sebaliknya. Apabila seseorang bermental sehat, maka sedikit kemungkinan ia akan mengalami ketidakmampuan manyesuaikan diri yang berat. Kesehatan mental adalah kunci dari penyesuaian diri yang sehat.


Oleh karenanya, penting bagi kita untuk menjaga kesehatan mental juga. Jangan sampai teman-teman hanya terfokuskan menjaga fisik agar tetap sehat. Eh, kesehatan mentalnya lupa tidak dijaga. Ibaratnya setiap pagi hari workout, malamnya selalu overthingking mikirin mantan yang pergi tanpa perpisahan.  (eh..) Hati-hati, jangan sering begitu ya teman-teman. Nanti bisa jadi pemicu masalah pada kesehatan mental lho. Yuk bisa yuk, move on bareng-bareng!

Terakhir, rumus dari Qorin yang bisa jadi reminder untuk teman-teman dalam penyesuaian diri,  "Healthy Body + Healthy Mind = Happy Life".

Well, semoga tulisan kali ini bermanfaat buat teman-teman pengunjung blog. 
Sampai bertemu ditulisan selanjutnya❤
Stay safe, stay healthy everyone!

Reference :
1. Semiun, Yustinus. 2006. Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisinus.
2. Sundari, S. 2005. Kesehatan Mental dalam Kehidupan. Jakarta : Rineka.
3. Nurdin. 2009. Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Penyesuaian Sosial Siswa Di Sekolah. JURNAL Administrasi Pendidikan.Vol IX No.1 : 86-108.

 

Share
Tweet
Pin
Share
4 Comments
Newer Posts
Older Posts

Hello.. Qorin Here

Hello.. Qorin Here
a woman who has lots of dreams. Hope you enjoy 'ur reading everyone ❤

Follow Me

  • instagram
  • soundcloud
  • Google+
  • steller

Categories

  • BLOG
  • POEMS
  • PSY TALKS
  • STORIES

Blog Archive

  • September 2018 (3)
  • October 2018 (1)
  • March 2019 (3)
  • August 2019 (1)
  • September 2019 (1)
  • December 2019 (1)
  • January 2020 (1)
  • February 2020 (1)
  • May 2020 (1)
  • July 2020 (1)
  • September 2020 (2)
  • October 2020 (4)
  • November 2020 (2)
  • January 2021 (8)
  • June 2023 (1)
  • September 2024 (1)

Total Pageviews

Translate

Blogger Perempuan

Created with by ThemeXpose