• Home
  • Poems
  • Blog
  • Stories
    • Category
    • Category
  • Psy Talks
instagram soundcloud Email

Qorina Sahudi

"Thoughts, Stories and Memories.."

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Bagaimana kabarnya teman-teman? Semoga sehat selalu ya dimanapun kalian berada.
Jadi yang dibahas kali ini adalah hal-hal apa aja yang sudah terlewati di semester 2 kemaren. Harusnya sih nulisnya sejak bulan Juni lalu, karena memang perkuliahan berakhir di bulan Juni. Yaa berhubung Qorin tidak beranjak menulis,  alhasil sekarang mepet sudah mau masuk perkuliahan semester 3. Untuk semester 2 memang tidak banyak dokumentasi, karena memang kuliahnya daring jadi segala macam kegiatan yaa serba daring.

Berikut ini adalah beberapa dokumentasi selama semester 2 :

9 March 2020
Ternyata ini dokumentasi terakhir kita bareng-bareng di kampus, sebelum corona datang. Dari kiri ada Qorin, Nisya, Azmi, dan Ferly paling kanan. Saat itu kita habis ambil uang di mesin atm yang ada di kampus, sembari nunggu abang ojolnya nisya jadilah kita berselfie-selfie ria. Masih inget banget Qorin :)

13 March 2020
Ini pas pertama kali meeting sama dosen dan teman-teman lainnya yang menjadi bagian dari "Asisten Menulis Buku" salah satu projectnya fakultas. Meeting pertama masih di kampus, lagi-lagi sebelum corona datang. Memang kurang estetik sekali saat pengambilan foto, karena memang situasi lagi agak serius masa iya Qorin mau jeprat-jepret ya tidak enak sama yang lain. Jadi foto ini sekedar pap yang ku kirim ke Umma untuk kasih tau bahwa anaknya sedang meeting. 

23 March 2020
Saat itu sudah mulai kuliah daring, dan masih sempet ke perpus karena butuh referensi bacaan buat presentasi. Waktu itu Qorin pinjem 3 buku sedangkan Ferly pinjem 1 buku aja yang sampai sekarang buku-buku itu belum kita kembalikan. Mungkin tahun depan? By the way, thank you Ferly yang diam-diam mengabadikan moment ini. 

27 March 2020
Setelah stay at home tapi di kostan beberapa hari. Akhirnya memutuskan untuk pulang kampung. Waktu itu di Stasiun Gubeng memang sedikit sekali penumpang dan Qorin pilih KA Mutiara Timur. Eh, ternyata malah di dalem kereta penumpang makin sedikit sekitar 10 orang di gerbong yang Qorin tempati. Bener-bener depan belakang samping kosong karena saking dikitnya. Ditambah ada salah seorang penumpang yang batuk-batuk mondar mandir ke kamar mandi, jadi bikin parno akhirnya selama hampir 6 jam perjalanan Surabaya-Banyuwangi tidak ke kamar mandi sama sekali.

23 April 2020
Meskipun di rumah saja Qorin mencoba tetap produktif hehehe. Ini saat ikut webinar kuliah saham, kebetulan yang ngisi adalah teman instagram Qorin yang kuliah di IPB yaitu Bang Firman. Emang dari 2019 pengen mencoba berinvestasi, tapi ya gitu masih miskin ilmu tentang saham. Dari webinar ini juga Qorin masih tetep belom paham. Tapi aku tidak akan menyerah dan akan terus coba belajar tentang investasi.

9 June 2020
Salah satu dokumentasi kuliah daring. Ini saat mata kuliah Psikologi Sosial dosen pengajar Bu Dyan. Suka sekali setiap Bu Dyan bahas materi.

16 August 2020
Nah, ini saat ikut pelatihan PFA yang diadakan oleh Inside Out UI. Kegiatan yang seru ditambah ada sesi roleplay bareng teman-teman dari berbagai universitas se-Indonesia. Webinar ini sangat membantu sekali dalam memahami PFA.

Begitulah highlight selama semester 2 kemaren. Walau banyak hal yang tertunda karena pandemi. Tapi Qorin bisa melakukan hal-hal baru selama dirumah. Seharusnya memang di semester 2 ada kuliah lapangan ke lapas anak di Blitar. Sayang sekali, coronanya datang lebih cepat ke Indonesia. Jadi angkatan Qorin tidak merasakan kuliah lapangan ke lapas anak. 
Harapannya untuk semester 3 yang sudah pasti masih tetap dilakukan secara daring, semoga tetap semangat menjalani perkuliahan. Untuk semester 4 berharap sekali sudah bisa kuliah secara offline :)
Semangat terus ya teman-teman menjalani perkuliahan!
Stay safe, stay healthy!
Sampai bertemu ditulisan selanjutnya❤














Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Bagaimana kegiatan di tahun baru ini teman-teman? Tahun baru semangat baru yaa. Semoga di tahun 2020 mimpi-mimpi kita yang belum tercapai bisa tercapai satu persatu. Pokoknya  tetap optimis dan jangan patah semangat!

Semester 1 merupakan semester untuk beradaptasi. Di semester ini, Qorin masih beradaptasi dalam segala hal. Mulai dari lingkungan kost dan perkuliahan, sistem belajar, pertemanan, hingga pengelolahan dalam keuangan. Nah, karena memang masih semester 1 aku bertemu dengan teman-teman baru juga. Pas banget, aku juga tidak mau menyia-nyiakan waktuku saat kuliah di Surabaya. Mumpung masih semester awal juga aku bergabung dengan komunitas kemanusiaan.

Well, sebelum memulai perkuliahan pasti ada ospek dong. Ospek di kampus Qorin dilaksanakan selama 5 hari beda sama kampus lain ada yang lama banget ospeknya (info dari temen-temen univ lain). Syukurlah di kampus Qorin hanya 5 hari. Dulu suka mikir, ospek di perkuliahan apakah akan menyeramkan? Dan ternyata gak sama sekali. Dulu yang ku kira akan disuruh bawa bekal makan yang aneh-aneh, faktanya di kampus malah disediakan dari sarapan sampai makan siang. Memang sih selama 3 hari di isi dengan materi dari para pembicara baik dosen ataupun orang-orang penting lainnya. Selebihnya kegiatannya adalah game dan sejauh itu yaa so fun lah. Ok, ternyata ospek memang tidak seseram yang Qorin bayangkan. 

Berikut adalah dokumentasi selama ospek :
Bersama Kelompok Ospek Erik Erikson
Bersama Itta teman sekelompok
Malam Inagurasi W/ New Friends
Sebelum perkuliahan kita ada perwalian terlebih dahulu untuk mengambil KRS kita nantinya. Di saat perwalian itulah bertemu dengan wali dosen Qorin dan teman-teman baru yang nantinya akan sekelas selama 2 semseter.
Foto session setelah perwalian
Pertama kali dapet KTM fotonya bantet pula
Karena memang selama kuliah kita diwajibkan mengumpulkan point entah itu point dari sertifikat perlombaan yang dimenangkan, sertifikat mengikuti seminar, atau bahkan sertifikat mengikuti organisasi. Jadi di semester pertama ini Qorin hanya mengikuti seminar selama satu kali. 
Seminar Pertama di Perkuliahan
Dulu selama gap year Qorin pengen banget kalau sudah kuliah mau ikut organisasi ini itu, pengen ikut BEM juga. Nah, awal-awal kuliah emang semangat banget pengen ikut. Jadilah Qorin ikut LKMM PRA-TD dulu, karena katanya syarat daftar BEM harus punya sertifikat LKMM PRA-TD dulu. Tapi, faktanya sekarang sudah mau memasuki semester 2 Qorin malah pengen ikut kegiatan yang di luar kampus.

Sebelum berangkat untuk LKMM PRA-TD
Foto blurr saat outbond bersama kelompok LKMM PRA-TD
Last day LKMM PRA-TD wajah belang bersama Ferly dan Azmi
Selanjutnya adalah dokumentasi disaat perkuliahan yaa selayaknya mahasiswa yang lain. Kegiatannya ya kalau ga presentasi, kerja kelompok. Tapi kita sering makan-makannya disaat kerja kelompok hehehe.
Kerkel full team
Sembari menunggu giliran presentasi, Aku dan Nisya berselfie
Kompilasi Foto di kelas Edited by Ferly
Happy Face setelah menyelesaikan UAS Semester 1
Selama semester satu ini, Qorin juga mengisi waktu-waktu yang sekiranya senggang bersama komunitas baru Qorin yaitu Save Street Child Surabaya. Komunitas ini adalah komunitas kemanusiaan yang bergerak dalam bidang sosial dan pendidikan. Disini Qorin bertemu dengan adek-adek marginal ataupun anak-anak jalanan yang bisa dikatakan kurang dalam segi ekonomi dan membutuhkan pendidikan selayaknya. Kegiatan yang dilakukan biasanya mengejari adek-adek dalam membaca dan menulis juga mengaji. Nah, setiap Jumat kita bagi-bagi susu dan alat tulis di bebereapa tempat yang ada di Surabaya. Dengan komunitas ini menjadi alarm bagi Qorin agar selalu mawas diri dan bersyukur atas apa yang telah Qorin dapat. Karena masih banyak di luar sana, adek-adek yang sangat membutuhkan kebahagian sesungguhnya seperti kita.

Kegembiraan adek-adek SSCS saat Jumat Sehat
Qorin dan adek-adek juga para pengajar SSCS
Yaa begitulah highlight selama semester satu. Banyak pelajaran yang Qorin dapat juga bertemu dengan teman-teman baru pula. 
Terima kasih semester satu. 
Be nice for the next semester and get more experience. Amiin
Sampai bertemu ditulisan selanjutnya❤






Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Maaf sebelumnya jika terlalu panjang..
But, this is the true story of me. 
Enjoy your reading!

Alhamdulillah tidak terasa sudah bulan Agustus saja teman-teman, tidak terasa juga Qorin hampir memasuki usia kepala 2. Ya Allah, waktu cepat sekali berlalunya. Sudah ingin menulis jauh-jauh hari, tapi jarang buka laptop akhir-akhir ini. Pas banget bulan Juli kemaren adalah bulan yang penuh keriweuhan. Dari mengurus pendaftaran kuliah, bolak-balik Banyuwangi-Surabaya, acara keluarga besar berhari-hari dan juga acara sakit huhu (alhamdulillah disyukuri saja). Saat waktu senggang sih sudah menulis beberapa tulisan di memo hp untuk isi blog ini. Tapi, karena Qorin malas untuk menulis ulang ke laptop ya akhirnya kuputuskan membuat tulisan baru lagi.

Banyak banget pas pengumuman SBMPTN yang WhatsApp padaku, di IG juga ada beberapa teman yang nge-dm. Sudah kali ke-2 Qorin mengalami hal seperti ini, tahun lalu dan tahun ini. Sebenarnya ditanya begitu sumpek sekali sih, jadi mohon maaf bila ada pesan dari teman-temanku yang tak ku jawab ya. Tapi, disisi lain juga membuktikan teman-teman tercintaku sudah peduli padaku. Qorin terharu deh, terima kasih ya teman-teman❤

Mengenai hasil SBMPTN 2019, Qorin sudah gagal yang ke-2 kali teman-teman. Pilihan yang kuambil tahun ini yaitu Psikologi UNESA dan HI UNEJ.

Keputusan memilih SOSHUM.
Awal-awal gap year sebelum daftar bimbel kelas alumni di Neutron Banyuwangi, Qorin sempat diskusi sama Abah Umma dan keputusan yang kupilih adalah tidak mencoba kedokteran lagi. Maaf, Qorin terlalu takut untuk mencoba yang ke-2 kalinya. Disisi lain, Qorin juga sudah menemukan apa yang benar-benar diinginkan dan Insha Allah akan sanggupi walau belum menjalani. Abah sangat menyayangkan sekali keputusanku ini. Ya karena Abah juga sudah mendukung sekali dan ingin melihat anak pertamanya menjadi seorang dokter dimasa depan. Kalau di ingat-ingat lagi waktu itu, membuat diriku menangis lagi telah mengecewakan berkali-kali Abah Umma yang sudah berjuang untukku sejauh ini. Tapi, nyatanya kemampuanku juga tidak bisa dibohongi. Qorin sudah ingin stop untuk ambis dan tidak mampu untuk bersaing lagi di jurusan favorit saintek se-Indonesia itu. Bahkan sampai saat ini, Qorin juga tidak menyangka untuk berhenti mengejar mimpi menjadi dokter.

Tentunya setiap kejadian selalu ada hikmahnya masing-masing. Qorin juga tidak perlu menyesali untuk keputusan yang telah dipilih, karena semua terjadi atas kemauan diri sendiri. Setelah dipikirkan kembali saat itu, sepertinya banyak jurusan yang ingin kuambil masuk di kelompok soshum. Salah satu diantara jurusan yang kumau yaitu jurusan Hubungan Internasional. Waktu masih kelas 2 SMA di pesantren, Qorin juga sudah sempat mencari tau apa itu HI. Umma bahkan sempat mendukungku untuk memilih di HI jika kedokteran tidak lolos. Iya, akhirnya kuputuskan untuk memilih HI saja untuk SBMPTN 2019 pikir Qorin saat itu tanpa panjang lebar.

Ketika hari-hari sudah dimulai dengan belajar sbmptn di tempat bimbel baruku. Qorin bertemu dengan teman-teman baru dan mendengar kisah kegagalan mereka yang bermacam-macam pula. Bertemu dengan tutor yang baik-baik dan sabar pula menghadapi anak IPA yang memilih soshum ini. Lambat laun Qorin jadi suka banget sama pelajaran anak soshum dan makin falling in love setiap harinya. Kadang di hati sempat berkata, kenapa Qorin tidak memilih IPS saja saat SMA?

Dua bulan bimbel alhamdulillah sudah ada progress lah. Ketika Try Out sudah bisa masuk 3 besar juga, walau jadi peringkat 1 jarang banget hehe (sepertinya selama setahun bimbel cuma 3kali). Banyak anak IPS yang suka menghindar dengan pelajaran hitung-hitungan terutama Ekonomi. Eh, pas bimbel Qorin malah suka banget sama pelajaran Ekonominya. Tapi sebelum di Neutron, Qorin sudah bimbel online terlebih dahulu pake Ruangguru biar ga kaget gitu sama pelajaran anak IPS. Ternyata pake Ruangguru enak juga sih, eh ini beneran honest review dari Qorin bukan bermaksud promoin hehe..

Mencari Jurusan Selain HI.
Nah, pas bulan Desember 2018 Qorin lagi googling jurusan-jurusan soshum di internet untuk mencari referensi jurusan selain Hubungan Internasional dan nyasarlah ke website nya kak A'yun yang berisi tentang jurusan Psikologi. Dari situ, entah mengapa diriku mulai deh tertarik sama jurusan Psikologi. Qorin mulai mencari info dari internet sampai youtube. Sepertinya Qorin akan sangat cocok sekali di jurusan ini. 

Nah, kesalahannya adalah Qorin tidak pernah membahas jurusan ini ke Abah Umma. Umma hanya tau Qorin akan memilih HI di UNEJ, Abah jarang pulang ke Banyuwangi juga jarang tanya kabar tentangku. Saat itu Qorin berpikir sudah tepat sekali  jika memilih jurusan Psikologi ketimbang HI, karena ternyata Abah tidak ingin anaknya masuk HI dan berkecimbung di dunia politik.

Days to months dilalui dengan belajar, belajar, dan belajar tidak terasa juga sudah memasuki tahun 2019. Waktu itu Qorin masih ragu untuk bilang ke Abah Umma tentang jurusan yang kupilih nanti. Kuputuskanlah dengan sholat istikharah beberapa kali dan hasilnya Qorin sudah yakin di Psikologi. Saat tiba UTBK 1, Qorin minta maaf ke Abah Umma juga minta do'a ke mereka. 10 hari setelah UTBK tibalah pengumuman nilai dan hasilnya menurut Qorin juga lumayan, mengingat Qorin anak IPA yang ngebut setahun belajar pelajaran anak IPS dapet nilai segitu sudah alhamdulillah sekali. (maaf tidak kucantumkan nilai).

Karena tahun ini SBMPTN nya berbeda dari tahun lalu, jadi Qorin memilih kampusnya belakangan. Yang terpenting tau nilai terlebih dahulu, baru memikirkan kampusnya. Setelah UTBK 1 Qorin tetap berlanjt belajar lagi untuk UTBK 2, belajarnya juga sudah mulai renggang tidak seperti UTBK 1. Tibalah hari-H pas banget juga Qorin lagi banyak pikiran huhu :') tapi, semua berjalan lancar alhamdulillah walau pikiran suka ngelantur.

Selesai sudah berjuang setahun untuk UTBK, akhirnya plong. Sudah tidak memikirkan lagi beban-beban tinggal menunggu nilai ke 2 dan tentunya berharap lebih tinggi dari yang pertama. Faktanya hasil UTBK 2 lebih rendah dari UTBK 1 selisih 30 saja. Berhubung sudah tau nilai, akhirnya memutuskan PTN mana yang akan kupilih. Awal gap year sih, Qorin pengen di UGM hehe kampus idaman sekali. Berhubung Qorin sudah tau nilai tentu tidak mengambil di UGM yang ada cari mati kalau SBM milih UGM.

Nah, setelah UTBK ke-2 inilah Qorin mulai berani ngomongin jurusan Psikologi pas sudah deket-deket pendaftaran sbmptn. Pertama kali Qorin bilang mau di Psikologi semua kaget tentunya. Abah dan Umma bertanya-tanya kenapa tidak bilang jauh-jauh hari? Tapi setelah kujelaskan begini begitu, Qorin juga bilang pengen jadi Psikolog Anak dimasa depan. Akhirnya, mereka setuju walau memang telah dibuat kaget olehku. Dan benar saja, Abah bilang malah lebih setuju jika Qorin di Psikologi ketimbang di HI. 

Mengenai PTN.
Tentang kampus yang kupilih, Qorin pernah ikut rasionalisasi "X" paling populer di IG dan juga direkomendasikan oleh teman-teman bimbel. Dengan nilai yang segitu katanya akun "X" Qorin sudah bisa lolos di Psikologi Unesa (katanya). Nah, di akun "X" ini Qorin juga bisa ganti-ganti jurusan gitu. Akhirnya sambil iseng nyoba-nyoba di UGM, eh Qorin bisa lolos di UGM tapi jurusan Antropologi kalau tidak salah. Di UI juga bisa lolos, tapi jurusan Sastra Jawa hehehee. Faktanya pas pengumuman Qorin tidak lolos di Unesa maupun Unej. Jadi kesimpulannya, "Dont try 'n trust rationalization,everyone. Its  just make you heartbreak :') ".

Menurut pendapat  Qorin jika milih Unesa sepertinya aman-aman saja. Pikirku orang yang lebih tinggi nilainya diatasku bakal ambil selain Unesa hehe.. (pikirku) Yah, ternyata sama saja teman-teman. Mungkin juga mereka yang lebih tinggi nilainya juga cari yang aman :')

Mengenai Mandiri.
Sebelum pengumuman Qorin sudah buat notes dikalender, kubulati tanggal-tenggal penting mandirinya PTN. Niatnya mau nyoba UNDIP, entah mengapa dari tahun lalu Qorin ingin sekali di UNDIP (sepertinya jodohku ada disana, hehehe). Tapi, gagal! Umma menyuruhku harus di Jember biar deket Umma. Selain UNDIP, Qorin ingin nyoba UTUL UGM siapa tau coba-coba berhadiah ya kan. Karena pendaftarannya ditutup sebelum pengumuman sbmptn, segeralah Qorin meminta izin ke Abah dan saat itu Abah mengizinkanku untuk daftar utul. Akhirnya selesai bayar pendaftaran 300rb hingga sudah membeli tiket kereta ke Jogja hingga cari-cari penginapan juga bareng teman Qorin (senggol Hilda). Sayang sekali, Qorin juga gagal mencoba di UGM. Abah memberiku harapan palsu :')
Pokoknya masa-masa itu Qorin sering banyak nangisnya tidak beda jauh sama tahun lalu, bedanya cuma tahun ini Qorin menangisi perkara tidak bisa nyoba mandiri PTN di Jawa Tengah. Dulu saja, pas Qorin ambil FK dimanapun diperbolehkan :') Masa-masa seperti itu sahabat juga berperan penting sih, sempet ditelfon sahabat-sahabat Qorin sampe berjam-jam, curhat-nangis and repeat. Pas banget keluarga Qorin lagi mudik ke Madura sebulan. Jadilah di rumah Qorin ga selera makan beberapa hari, sama mbak sampe dibelikan nasi pecel kesukaanku tetap saja ga selera makan (selebay itu tapi memang heartbreak banget).

Mencoba Nurut, Tapi..
Sedihnya sih lama-lama kelar juga, karena capek nangis terus-menerus. Umma pengennya Qorin di Jember, tapi ternyata di Jember tidak ada Psikologinya. Berhubung UGM dan Undip tidak bisa kucoba rasanya Qorin ingin langsung daftar di swasta saja pikirku. Ternyata selama ditinggal Abah Umma di Madura, keluarga disana sepertinya telah memberi saran Abah agar menyuruhku mencoba di kesehatan (Ya Allah cobaan hidup). Abah menelpon dan menyuruhku daftar di UNUSA untuk mencoba di kedokteran dan kesehatannya. Jadi selama ini, aku belajar IPS buat apa? (dalam hati).

Makin kacau teman-teman, namanya hidup ya banyak kejutan-kejutan yang tak terduga. Akhirnya Qorin bingung harus curhat ke siapa, kuputuskan sholat dan doa ke Allah. Dalam doa Qorin meminta ke Allah "Ya Allah, dimanapun kuliahnya. Qorin akan terima dengan ikhlas dan legowo. Yang terpenting Qorin bisa kuliah di Psikologi". Setiap sholat fardhu mintanya selalu begitu, hingga akhirnya Qorin dapat info dari sepupu yang di Madura bahwa UINSA masih membuka pendaftaran jalur Mandiri. Akhirnya, Umma juga menelponku dan menyuruhku segera daftar karena kebetulan besoknya sudah ditutup. Uinsa memang tidak masuk dalam daftar yang diinginkan, juga Qorin tidak berharap terlalu banyak. Jujur saat itu Qorin masih kepikiran Utul dan Undip (kalau diingat-ingat sedih deh). 

Beralih ke Unusa, Qorin dengan perjuangan sekali memohon ke Abah sempat nangis juga untuk tidak mendaftar di dunia kesehatan lagi. Mungkin Abah tidak tega, akhirnya Qorin tidak jadi mendaftar di Unusa teman-teman. Sungguh, tahun ini bener-bener beda deh dari tahun lalu. Tahun ini Qorin hanya mendaftar mandiri  hanya 1 PTN saja. Bayangkan saja teman-teman, otak ku ini sudah di isi dengan pelajaran soshum selama setahun, tiba-tiba dipaksakan ke saintek dengan waktu belajar hanya 5 hari. Sangat impossible sekali ide mbakku itu, jelas-jelas Qorin tidak akan lolos lagi di kedokteran. 

Mengenai PTS.
Qorin googling PTS di Surabaya, ya karena kota yang diperbolehkan hanya di Surabaya mau tidak mau Qorin ya harus mau. Sempat lihat info Ubaya tapi, sayang sekali Ubaya sudah ditutup padahal Psikologinya akreditas A. Sedangkan di Hang Tuah masih ada gelombang 3 kalau tidak salah. Nah, gak lama Umma telfon dan kasih tau kalau di Untag Surabaya ada psikologinya. Qorin tidak kepikiran sama Untag, eh pas googling lagi Untag masuk no.4 terbaik PTS di Surabaya lupa versi apa cek saja di internet. 

Final.
Tiba pada hari H ujian mandiri Uinsa, Qorin sudah pasrah sepasrah-pasrahnya. Kalau lolos yasudah, ga lolos yasudah gapapa. Di mandiri Uin ketemu bahasa arab banyak sekali dan Qorin kesulitan disitu :') Setelah uijan mandiri Uin langsung daftar ke Untag. Ternyata Qorin bebas tes teman-teman, karena nilai UN Qorin diatas 7. Salah satu kejutan tak terduga juga sih. Dulu pernah bilang ke salah seorang teman karena saking lelahnya gagal tes terus, "Aku capek tesan  pengen langsung masuk". Ternyata sama Allah permintaanku diijabah. Sebelumnya Qorin juga tidak tau untuk masalah nilai UN, cuma baca di webnya hanya perlu membawa berkas-berkas yang dibutuhkan saat pendaftaran setelah itu akan ditentukan jadwal tesnya. Selebihnya, Qorin tidak menyangka jika langsung diterima tanpa repot-repot berlama-lama di ruangan mengerjakan soal tesan.

Setelah dinyatakan diterima di Psikologi Untag dan mengurus rincian biaya administrasi. Saat itu Qorin tidak langsung bayar juga, masih menunggu pengumuman Uinsa. Jika tidak lolos di berarti memang Untag adalah pilihan yang tervaik untukku. Benar saja, pas hari pengumuman Qorin tidak lolos di Uinsa. Perasaannya tidak terlalu kaget, tidak terlalu sedih. Mungkin sudah merasa aman diterima di Untag. 

Selama di Surabaya, Qorin ditemani Abah karena juga sedang mengurus pekerjaannya disana. Setelah tes di Uinsa pun Qorin juga meminta maaf  ke Abah jika nanti hasilnya mengecewakan. Mungkin saat ini belum bisa buat Abah bangga, tapi Qorin akan berusaha terus untuk berbakti ke Abah dan Umma. Pun untuk menjadi seorang Psikolog harus menempuh pendidikan sampai S2. Jadi perjalanan Qorin masih sangat panjang sekali teman-teman.

"Ya, memang bermimpi itu tak terbatas. Mungkin diantara kalian sudah ada yang terwujudkan mimpi-mimpinya. Bahkan juga mimpi-mimpi yang sudah kita buat dari kecil belum tentu selalu terwujudkan di masa depan. Tapi, dibalik itu semua ada jalan menuju kesuksesan masing-masing. Qorin juga percaya, tanpa menjadi dokter Qorin juga bisa sukses di masa depan :)"

Untaian Kata Terima Kasih.
Terima kasih, untuk Abah dan Umma atas segalanya. 
Terima kasih, sudah memberikan Qorin kebebasan berpendapat dan memilih apa yang diinginkan.
Terima kasih, sudah  bersabar dalam mendidik dan merawat Qorin sejauh ini.
Qorin juga selalu bersyukur pada Allah karena telah memiliki orang tua seperti kalian.
I love you both, forever and always.

Terima kasih, untuk adek, orang terdekat, sahabat, dan teman-teman as always supported me.
Terima kasih, kepada teman-teman yang sudah mendukungku untuk memantapkan hati di Psikologi.
Terima kasih, untuk doa-doa yang telah kalian berikan padaku..
Maaf, selama ini Qorin belum bisa membalas satu-persatu kebaikan yang kalian berikan selama ini.
Semoga Allah membalas dengan kabaikan pula.
I love you 3000 .

Terima kasih, untuk diriku.
Banyak hal yang sudah kau lalui sejauh ini.
Satu tahun yang berharga untuk mengupas satu persatu makna kehidupan.
Maaf, jika sering melukaimu dengan ke egoan ku.
Maaf, jika hasilnya tidak sebanding dengan perjuangnamu selama ini.
Tapi, aku tetap bangga padamu.
Kau sudah menemukan apa yang sesungguhnya kau inginkan.
Selamat datang dikehidupan barumu.
Lakukan terus yang terbaik untuk dirimu dan orang-orang sekitarmu.

Sampai bertemu ditulisan selajutnya❤

























Share
Tweet
Pin
Share
8 Comments
source : pixels
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Hallo teman-teman.. Selamat datang di blognya Qorin❤
Untuk menyambut bulan September ini akhirnya Qorin kembali menulis blog baru setalah 6 tahun lamanya tidak menulis. Alhamdulillah bisa memanfaatkan waktu lenggangku disaat memang benar-benar lenggang. Karena tidak berstatus pelajar atau mahasiswa,  lantas Qorin ini berstatus apa ya kalau bukan keduanya? iya, kini Qorin menjadi anak "GAP YEAR" (jeng jeng jeng). Ok baiklah, untuk mengawali tulisan pertama di blog baruku ini. Qorin akan mulai bercerita. Selamat membaca teman-teman.

Jadi, Qorin ini adalah perempuan berdarah Jawa-Madura yang mana mempunyai mimpi yang sangat tinggi sekali. Apakah itu? "Dokter" iya, Qorin bercita-cita menjadi seorang dokter. Terus apa hubungannya dengan berdarah Jawa-Madura? dikarenakan Qorin bercita-cita menjadi dokter sedari masih berdomisili di Madura, masih di rumah Abah. Tepatnya saat kelas 2 SD dan Qorin menuliskan cita-cita itu di buku diary dengan cover Dora Explorer yang saat ini masih kusimpan lho. Percaya atau tidak? Percayalah saja deh! Buku itu masih ada. Jika kalian tidak percaya, datanglah kerumahku! Tulisan itu berisikan cita-citaku menjadi dokter spesialis kandungan (Obgyn). 

Hari demi hari kulewati selayaknya bocah SD hingga tiba naik kelas 5 SD. Pada saat itu, Qorin akan memiliki adek baru (Bilqis) dan setiap Abah Umma check up ke dokter obgyn Qorin selalu diajak. Dari situlah mengapa Qorin kekeh dan bertekad untuk tetap mempertahankan cita-cita menjadi seorang dokter. Ya walaupun pemikiranku saat itu masih pemikiran bocah. Dan cita-cita itu terus tumbuh seperti bunga yang selalu disiram maka kelopaknya akan mekar. Sama halnya dengan cita-citaku yang terus saja berada dibenak hingga Qorin memasuki tahun akhir di SMA dan berlanjut mendaftar kuliah di PTN. 

Rintangan dimulai dari SNMPTN, saat itu Qorin mengambil jurusan Kedokteran UNEJ dan sebelumnya wali kelas telah memberitahuku bahwa, alumni dari sekolah tidak pernah ada yang mendaftar FK saat SNMPTN. Ada beberapa yang daftar FK tapi lewat jalur SBM dan Mandiri. Qorin sih easy going saja dan selalu maunya menjadi pelopor. Sehingga adek kelas seterusnya tidak takut untuk mendaftar FK jalur SNMPTN tentunya berharap juga pada lolos yaa (amin). Sebenernya sih, Qorin masuk kategori bandel, nekad juga padahal guru BK dan wali kelas sudah memberi saran untuk memilih jurusan lain. Memang di SNMPTN Qorin tidak berharap begitu besar tapi, bukan berarti Qorin tidak berdoa pada yang di Atas dan memang "Dokter" sudah kucita-citakan sejak lama. Benar saja, Qorin tidak lolos di SNMPTN. Tapi, Qorin tidak putus asa di SNMPTN karena sudah mempersiapkan SBMPTN dengan penuh perjuangan.

Berlanjut saat SBMPTN Qorin memilih panlok Jember karena dekat dari Banyuwangi dan juga agar bisa ditemani Abah. Setelah tes kuhadapi tibalah pada pengumuman dan saat membuka pengumuman Qorin ditemani oleh Umma karena Abah sudah ada di Madura. Lagi-lagi bukan rezekiku dan Qorin ditolak untuk yang kedua kalinya di Kedokteran UNEJ. Qorin menangis sejadi-jadinya karena di SBMPTN Qorin sudah PD pasti lolos tidak seperti waktu mendaftar SNMPTN. Bahkan hampir seharian menghabiskan waktu di GO setelah dari sekolah. Karena dengan kepedean dan keambisiusan itu, Qorin tidak memikirkan tentang "Ujian Mandiri". Saat Qorin menangis banyak pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan dibenak, jurusan apa yang bakal harus kuambil jika ikut ujian mandiri? PTN mana yang bakal kupilih? dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sebelumnya belum pernah terfikirkan.

Setelah 2 hari berlaut-larut dalam kesedihan, akhirnya Abah dan Umma angkat bicara kurang lebih seperti ini, "Nak, gakpapa ga usah sedih kan masih ada jalur mandiri" Detik itu juga hatiku hancur, seharusnya Qorin sudah membahagiakan Abah dan Umma dengan kelolosan SBMPTN. Tapi, kenyataannya berbeda dan ini semua sudah skenario Allah dan kita sebagai hamba-Nya hanya bisa berserah diri. Saat itu juga, Qorin mulai mencari PTN yang membuka jalur mandiri entah dari yang tidak ada uang pangkal sampai yang ada uang pangkal puluhan juta pun Qorin daftari. Tentu tidak sembarang mendaftar sebelum memberitahukan dan meminta izin ke Abah dan Umma mengenai nominal uang pangkal disetiap PTN yang kudaftari. Karena disituasi saat itu Abah Umma bilang, "Apapun demi anak, yang penting anakku bisa sekolah di kedokteran". Namanya orang tua, tidak ada yang ingin mlihat anak-anaknya sedih. 

Berikut adalah PTN yang telah kudaftari lewat jalur mandiri :

1) UB                   (w/ DPP)          
2) UNAIR           (w/ DPP)
3) UNS                 (w/ DPP) 
4) UNDIP           (w/ DPP)
5) UIN Malang  (no DPP)

Lagi-lagi dari 5 PTN tersebut tidak ada yang lolos satupun dan bodohnya aku masih  tetap memilih kedokteran karena keambisiusan. Jadi, total Qorin tidak lolos FK 7 kali (astagfirullahal'adzim). Sumpah sih, susah banget lolosnya kalau tidak benar-benar super duper pinter. Lantas bagaimana reaksi Abah Umma? Walau mereka tidak menampakkan wajah sedih mereka. Tapi, Qorin tau jika mereka benar-benar sedih dan juga kecewa. 

Saat itu Qorin sudah mulai mencoba untuk tetap tegar dan menerima kenyataan. Saat itu juga Qorin mulai membenahi diri, mulai mengontrol ego, dan yang terpenting mulai memahami passion yang sebenarnya. Setelah kurenungkan mungkin memang Kedokteran bukan jalanku untuk meraih kesuksesan. Bisa jadi, Qorin akan sukses tanpa harus jadi dokter. Seharusnya sejak dulu Qorin harus sadar diri dan mempertanyakan pada diri sendiri "Apakah aku sanggup lolos kedokteran?" Iya.. banyak orang bilang, "Jika ada kemauan pasti ada jalan" sebenarnya Qorin percaya saja dengan kalimat itu, tapi juga tidak bisa menampik jika kemampuan Qorin ya segini adanya. 

Akhirnya keputusan yang diambil Qorin memilih untuk "Gap Year" tahun ini dan mendaftar SBMPTN di tahun 2019. Keputusan ini tentu sudah didiskusikan juga dengan Abah dan Umma bukan hanya dariku sepihak. Tentu saja keputusan ini membuat keluarga besar semakin bertanya-tanya mengapa harus gap year? Bukan hanya keluarga tapi tetangga juga, mereka menyarankanku untuk mendaftar di PTS saja. Sebenarnya, tidak ada anak yang menginginkan untuk menganggur setahun bukan? Tentu mereka semua bahkan Qorin juga ingin langsung meneruskan pendidkan di jenjang yang lebih tinggi tanpa harus gap year. Tapi, jika seperti ini apa boleh buat? Karena dari awal Abah juga menginginkan pendidikan yang terbaik untuk anaknya di PTN.

Not only my parent, pasti semua orang tua juga menginginkan anaknya kuliah di universitas terbaik untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik pula. Padahal antara PTN dan PTS sama baiknya bukan? Tinggal dari kitanya saja yang mau bersungguh-sungguh atau tidak. Ya.. mungkin gap year juga adalah pilihan terbaikku saat ini, dengan begitu Qorin benar-benar bisa menemukan passion yang sesungguhnya. Dan yang ingin kusampaikan pada Abah dan Umma saat ini adalah, "Qorin sangat berterima kasih kepada Abah dan Umma yang sudah memberikan pendidikan yang baik padaku dengan memasukkanku di pesantren walau hanya sebentar, memilihkanku di bimbel terbaik, membelikan buku-buku terbaik pula sejak SD hingga benar-benar mau mendaftar kuliah, dan untuk apakah itu semua? agar Qorin bisa menggapai cita-cita menjadi seorang dokter. Tapi, Qorin juga sangat-sangat meminta maaf kepada Abah dan Umma jika Qorin tidak bisa lolos di Kedokteran. Maafkan Qorin, ma..bah.."

Mungkin segitu dulu cerita pertama Qorin, semoga cerita ini juga dapat menjadi gambaran bagi pengunjung blogku yang barangkali mau mengambil Kedokteran. Jika kamu memang benar-benar sanggup dan yakin untuk lolos maka teruskan perjuanganmu! dan jika kamu masih ragu dalam mengambil kedokteran mohon difikir lagi apakah benar itu adalah passionmu? atau coba telusuri lebih lanjut passionmu. Dan kuucapkan selamat untuk para teman sejawatku, "Selamat menempuh hidup baru di masa kuliahmu. Be the new you guys!!!"
Sampai bertemu ditulisan selanjutnya❤
















Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Hello.. Qorin Here

Hello.. Qorin Here
a woman who has lots of dreams. Hope you enjoy 'ur reading everyone ❤

Follow Me

  • instagram
  • soundcloud
  • Google+
  • steller

Categories

  • BLOG
  • POEMS
  • PSY TALKS
  • STORIES

Blog Archive

  • September 2018 (3)
  • October 2018 (1)
  • March 2019 (3)
  • August 2019 (1)
  • September 2019 (1)
  • December 2019 (1)
  • January 2020 (1)
  • February 2020 (1)
  • May 2020 (1)
  • July 2020 (1)
  • September 2020 (2)
  • October 2020 (4)
  • November 2020 (2)
  • January 2021 (8)
  • June 2023 (1)
  • September 2024 (1)

Total Pageviews

Translate

Blogger Perempuan

Created with by ThemeXpose