• Home
  • Poems
  • Blog
  • Stories
    • Category
    • Category
  • Psy Talks
instagram soundcloud Email

Qorina Sahudi

"Thoughts, Stories and Memories.."

Assalamu'alaikum pembaca setia blognya Qorin yang selalu semangat..
Qorin hadir untuk mereview film lagi nih, fellas. Film yang Qorin bahas kali ini merupakan film drama yang juga ada kaitannya lho dengan psikopatologi dewasa. Untuk pembahasan review film-film lainnya, silahkan pilih kategori "Psy Talks" ya fellas.
So, enjoy your reading fellas!

Mengenai Film Still Alice
Film ini diawali dengan perayaan ulang tahun Alice yang ke 50 dengan suaminya, seorang ahli laboratorium bernama John Howland (Alec Baldwin), anak perempuan tertuanya Anna (Kate Bosworth) beserta suami Anna/menantu Alice, Charlie Jones (Shane McRae), dan putra keduanya Tom Howland (Hunter Parrish). Namun tidak dihadiri oleh putri bungsunya Lydia Howland (Kristen Stewart) yang sibuk dengan urusan teaternya. Keluarga Howland bisa dibilang semuanya sukses dengan karirnya, John dan Alice dikenal sebagai profesor, putri pertamanya kuliah hukum dan sudah menikah, putra keduanya Tom seorang dokter ahli bedah, kecuali Lydia yang susah diatur dan tidak mau kuliah. Ia tetap bersih keras menjalani dunianya sebagai pemain teater di California.

Semuanya berjalan dengan biasa saja sampai pada sebuah seminar Alice tiba-tiba lupa dengan apa yang ia harus katakan selanjutnya. Ditambah lagi saat ia joging di sekitar kampus Universitas Columbia, ia seperti orang linglung. Karena merasa dirinya aneh, Alice coba menemui Dr. Benjamin (Stephen Kunken), seorang dokter syaraf yang ia rasa bisa membantunya. Setelah melakukan tes tentang daya konsentrasi, Alice mengira dirinya sedang mengalami perubahan hormon karena menopouse. Ia juga sempat berpikir dan takut dengan bayang-bayang tumor yang bisa saja menjadi penyebab keanehannya.  Alice ternyata mengidap Alzheimer dini. Penyakitnya termasuk langka karena ia mengidapnya di usia yang masih cukup muda, meski usianya sudah 50 tahun, karena rata-rata diderita oleh orang-orang tua. Dokter yang memeriksanya mengatakan bahwa penyakitnya adalah penyakit turunan dan akan sangat berpengaruh juga jika si pengidap termasuk orang yang pintar. (Source sinopsis : Tribunnewswiki.com)
Source : Pinterest
Apa yang Bisa Dibahas Dari Film Ini?
Di film tersebut, kita juga sudah mengetahui bahwa tokoh utamanya yaitu Alice mengidap Alzheimer saat dia berkonsultasi dengan dokternya, Alzheimer sendiri merupakan penyakit yang mengakibatkan pada menurunnya daya ingat, juga memori dan kognitifnya, kemampuan berpikir dan biasanya bicaranya terus menurun. Biasanya dialami oleh orang-orang yang berusia diatas 60 tahun. Alice sendiri memori dan kemampuan kognitifnya pun sudah ada tanda-tandanya yaitu pelupa atau pikun. Jadi sebelum Alice lansia, prosesnya pun sudah terjadi pada diri Alice.

Biasanya ketika sudah mulai lupa atau pikun terjadi, para lansia menjadi mudah cemas, mudah tersinggung, mudah curiga, marah-marah pada orang-orang sekitarnya. Terutama pada Alice yang berprofesi menjadi seorang profesor, dia merasa cemas ketika kemampuan kognitif dan juga memorinya mulai menghilang dari dirinya. Bila orang terdekat kita mulai mengalami kecemasan, hal yang dapat kita lakukan adalah untuk lebih peduli dan menyayangi mereka. Jika yang kita tunjukkan bahwa kita selalu ada untuk mereka, tentunya mereka akan merasa aman dan nyaman sehingga bisa mengurasi rasa cemas tersebut.

Yang paling penting adalah penyakit Alzheimer ini merupakan suatu penyakit progresif yang tidak dapat disembuhkan dimana sel-sel kortikal menjadi hilang. beberapa gen mungkin memiliki peranan dalam penyakit Alzheimer ini. Seperti halnya Alice yang mengidap Alzheimer karena faktor genetik atau keturunan dari ayahnya, pun salah satu anak dari Alice yang bernama Anna juga mengalami hal serupa. Sedangkan riwayat cedera kepala dan depresi juga merupakan faktor resiko. 

Nah, itu dia sedikit review mengenai film Still Alice ini.
Semoga bermanfaat ya fellas.
Sampai bertemu ditulisan selanjutnya❤
Stay safe, stay healthy, and stay happy!


Reference :
Davison, Gerald C, John M. Neale & Ann M. Kring 2006. Psikologi Bbnormal Edisi ke-9. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.




Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Hi fellas, tulisan blog kali ini masih dalam pembahasan mengenai psikopatogi. Lebih tepatnya membahas psikopatologi pada lansia yaitu "Demensia". Barangkali fellas punya kakek atau nenek yang lupa sama cucunya.. Kira-kira apa ya yang menjadi penyebab kakek dan nenek kita lupa ke kita?
Silahkan disimak sampai akhir ya..


Biasanya kita menyebut demensia dengan istilah kepikunan, secara lengkapnya demensia sendiri merupakan adanya kemunduran pada kemampuan intelektual seseorang hingga ke titik yang melemahkan fungsi sosial dan pekerjaan seseorang. Yang perlu fellas ketahui bahwa demensia ini biasanya lebih banyak menyerang lansia atau orang-orang yang bersuia 65 tahun keatas lho. Jadi jangan heran ya, bila kakek nenekmu lupa pada cucunya sendiri. Nah, demensia sendiri juga terjadi sangat perlahan selama bertahun-tahun dan kelemahan pada kognitif juga behavioral yang hampir tidak terlihat bisa terdeteksi lho, bahkan jauh sebelum orang tersebut menampakkan secara jelas gejala yang ada.

Lalu apa ya yang disebut dengan demensia vaskular?
Demensia vaskular ini biasanya dapat terlihat ketika seseorang yang mengalami demensia menunjukkan gejala-gejala neurologis seperti adanya kelemahan pada pada satu lengan atau refleks-refleks abnormal, bisa juga ketika adanya pemindaian otak menunjukkan adanya penyakit serebrovaskular. Biasanya yang paling umum dan sering kali terjadi, orang-orang yang mengalami demensia vaskular terkena serangkaian stroke karena adanya penebalan yang melemahkan sirkulasi dan menyebabkan kematian sel. Demensia vaskular ini bukan karena faktor genetik. Resiko yang tinggi dapat menyebabkan seseorang mengalami demensia vaskular karena adanya faktor resiko yang sama bagi penyakit kardiovaskular pada umumnya, seperti kadar kolestrol jahat (LDL) yang tinggi. 

Apa saja penyebab seseorang mengalami demensia?
Tentunya banyak sekali penyebab mengapa seseorang dapat mengalami demensia. Ada beberpa penyakit infeksi yang menyebabkan demensia tidak dapat disembukan. Seperti, meningitis, ensefalitas, juga organisme yang menyebabkan penyakit kelamin sifilis dapat masuk ke otak dan menyebabkan demensia. Lalu HIV dan AIDS menjadi salah satu penyebab demensia juga yang tidak dapat disembukan. Adanya trauma kepala, tumor pada otak, kekurangan nutrisi, gagal ginjal atau hati, dan masalah kelenjar endokrin seperti hipertiroidisme dapat pula menyebakan demensia. 

Untuk penanganan medis yang tepat, seperti mengembalikan keseimbangan hormonal yang  memberikan manfaat dapat dilakukan apabila penyebab demensia dapat dicegah. Oleh karenanya, hal utama yang dapat kita lakukan apabila kita memilki kakek nenek atau memiliki orang tua yang terkena demensia adalah merawatnya dengan sepenuh hati dan ikhlas dan penuh kesabaran.

Well, itu dia pembahasan mengenai demensia. 
Semoga bermanfaat ya fellas.
Sampai bertemu ditulisan selanjutnya❤
Stay safe, stay healthy, and stay happy!

Reference :
Davison, Gerald C, John M. Neale & Ann M. Kring 2006. Psikologi Bbnormal Edisi ke-9. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Assalamu'alaikum pembaca setia blognya yang selalu semangat..
Judul baru dengan review yang baru pula, biasanya Qorin review film. Sekarang berganti ke drama Korea nih, fellas. Qorin akan mereview drakor yang berjudul "Everyone is There" dengan kaitannya psikopatologi pada dewasa yaitu gangguan Dissociative Identity Disorder (DID) yang biasa disebut dengan gangguan kepribadian ganda.
Pengen tau pembahasannya? Simak sampai akhir ya fellas!


Mengenai Drama Everyone is There Membahas Tentang Apasih?
Mini drama ini ceritanya berfokus pada kisah seorang remaja SMP bernama Soo Yeon yang diperankan oleh Roh Jeong Eui, yang dikenal pendiam dan tertutup. Ia tumbuh dalam keluarga berkecukupan, namun sayangnya mengalami nasib kurang beruntung di sekolah. Soo Yeon menjadi korban bullying dari teman-temannya. Hingga pada suatu hari, ia tak tahan lagi dan berniat mengakhiri hidup. Untungnya, ada sosok penyelamat yang berhasil meyakinkan Soo Yeon untuk mengurungkan niatnya. Sejak saat itu, Soo Yoon dan penyelamatnya mulai melawan dan membalas semua siswa yang pernah melecehkannya. Di sisi lain, Soo Yoon mempunyai saudara kembar bernama Jung Yeon (juga diperankan Roh Jeong Eui). Meski wajahnya begitu mirip, kepribadian keduanya sangat berbeda. Jung Yeon tumbuh menjadi remaja yang kasar bahkan tak segan melakukan tindakan kriminal demi menghasilkan uang. (Source sinopsis : Kompas.com)

Lalu Bagaiamana Kaitannya dengan Psikopatologinya?
Drama ini yang kita ketahui memang tokoh utamanya memiliki gangguan kepribadian ganda atau bisa disebut dengan DID. Secara singkatnya DID sendiri merupakan gangguan kepribadian ganda yang terjadi pada seseorang yang mana bisa berperan dalam berbagai peran. Soo Yeon diceritakan pada drama ini memiliki 3 peran yang ia memiliki yaitu menjadi anak pendiam, lalu berperan sebagai anak kembar yang memiliki sifat agresif, dan peran ketiga yaitu menjadi konselor yang tak lain guru BK di sekolahnya. 

Source : Pinterest
Sayangnya, memang dalam drama ini tidak diceritakan secara gamblang mengenai masa kecilnya hanya sekedar diberitahu bahwa Soo Yeon ini termasuk anak broken home. Yang dapat kita pahami dalam drama ini yang menjadi penyebab Soo Yeon ini mengalami gangguan DID bisa saja karena adanya trauma karena orang tuanya bercerai. Dalam prosesnya sendiri ketika memang Soo Yeon mengalami trauma di masa kecil maka terbentuklah yang dinamakan fiksasi. Fiksasi ini terjadi dari suatu peristiwa yang diingat seseorang lalu mengendap sehingga meninggalkan kesan yang kuat. lalu dari sinilah juga menyebabkan terhambatnya peristiwa-peristiwa yang harus diekspresikan seperti mungkin pada tokoh Soo Yeon ingin protes, ingin marah, tidak setuju dengan keputusan orang tuanya yang bercerai, marah juga benci, tetapi semua itu tidak sempat terekspresikan keluar. 

Ketika peristiwa-peristiwa atau pengalaman di masa kecilnya terfiksasi lalu berada di dslam dirinya, sebenarnya hal ini direpres ke alam bawah sadarnya. Ketika ada peristiwa yang sama atau hampir mirip dengan persitiwa-peristiwa yang tidak terekspresikan di alam bawah sadarnya akan muncul dalam bentuk seperti adanya salah persepsi sehingga menimbulkan perilaku-perilaku yang berbeda salah satunya adanya gangguan DID. 

Dalam penanganan gangguan DID ini semakin banyak peran atau kepribadian yang dimainkan tentunya semakin berat pula penanganannya. Hal yang dapat dilakukan adalah adanya psikoterapi guna menyatukan semua kepribadian yang ada, sehingga menjadi kepribadian yang utuh kembali juga membantu dalam menghadapi trauma di masa lalunya yang tak lain menjadi penyebab seseorang mengalami gangguan DID. Selain itu terpai keluarga juga bisa dilakukan dalam proses penanganan DID. Atau dengan pemberian obat-obatan bila diperlukan untuk meredakan gejala yang ada.

So, itu dia review drama serta pembahasan mengenai psikopatologi pada dewasa.
Sampai bertemu ditulisan selanjutnya❤
Stay safe, stay healthy, and stay happy fellas!











Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Hi fellas, jumpa lagi di blognya Qorin. Masih dalam pembahasan berkaitan dengan psikopatologi pada dewasa, topik kali ini mengenai "Adiksi Pada Ganja".  Seperti apa ya kira-kira?
Simak sampai akhir ya fellas!

Penyalahgunaan narkotika belakangan ini sudah tidak asing ditelinga kita, banyak selebritis yang menggunakan narkotika dengan alasannya yang berbagai macam. Bukan hanya selebritis, tapi kalangan orang biasa tentunya masih ada yang menggunakan dan menyalahgunakan narkotika. Narkotika merupakan zat yang secara alaminya atau buatan dapat mempengaruhi cara kerja otak kita. Ketika seseorang menggunakan narkotika, maka zat-zat yang ada atau obat-obatannya tersebut akan mempengaruhi fungsi berpikir, perilaku, juga emosi seseorang.

Ganja sendiri merupakan narkotika golongan 1 yang memiliki kandungan utama yaitu kanabinoid yang berfungsi membuat penggunanya menjadi lebih relax. hal ini lah yang juga mempengaruhi cara kerja otak dan menyebabkan sensasi tubuh termasuk mempengaruhi perilaku juga memori. Yang mana dari efek-efek tersebutlah membuat para penggunanya mengalami adiksi atau kecanduan. Oleh karenanya, ganja ini harus dibatasi dalam penggunaannya.

Tentunya banyak penyebab mengapa seseorang menggunakan ganja, bisa dari faktor  lingkungan misalnya karena ajakan temannya. Bisa dari faktor mengalami gangguan psikologis karena stress terus-menerus, adanya depresi, memiliki kecemasan, yang menyebabkan seseorang memilih pelarian yang keliru dengan menggunakan ganja tersebut. Karena memang efek relaksasi dan menenangkan yang dimunculkan dari kandungan kanabinoid  inilah yang membuat seseorangnya menjadi adiksi. Dari kandungan tersebut pula oleh penggunanya dijadikan sebagai obat tidur, agar tidurnya menjadi lebih cepat dan nyenyak.

Efek ganja tentunya berbeda dari pengguna satu ke pengguna lainnya tergantung dari dosis yang digunakan dan variabel internal dalam diri seseorang. Pengguna ganja biasanya ditandai dengan kulit yang cenderung kusam, terlihat kurus, menimbulkan perilaku yang khas seperti munculnya halusinasi, energi yang tidak ada habisnya walau sudah beraktivitas seharian tapi juga ada yang menjadi lesu dan mudah mengantuk. Dilihat efek negatifnya dari sisi psikologis biasanya pengguna ganja terlihat moodswing ketika berinteraksi dengan orang lain, adanya symptom-symptom depresi, mudah gelisah, jika penggunaannya dalam jangka panjang juga bisa menyebabkan perubahan pola tidur dan makan.

Nah, untuk penanganan orang-orang adiksi ganja sendiri baik rehabilitas da pengobatannya memang bisa dikatakan memiliki tahapan yang sangat panjang. Yang sangat dibutuhkan disini adalah adanya motivasi untuk sembuh juga support system dari orang-orang sekitarnya. Karena tanpa adanya motivasi dan support system dan ketika komitmen untuk  kembali normal berkurang, maka bisa saja di tahap awal dalam proses pengobatan dan rehabilitas orang tersebut menyerah dan mengakibatkan kembali menjadi penggguna ganja.

Well, itu dia pembahasan mengenai adiksi pada ganja.
Semoga tulisan kali ini bermanfaat ya fellas.
Sampai bertemu ditulisan selanjutnya❤
Stay safe, stay healthy, and stay happy!






Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Kembali lagi dalam pereview-an film yang ketiga, kali ini Qorin akan "Review Film 2 Garis Biru (2019)" nih fellas. Untuk melihat review-review film sebelumnya dengan kaitannya psikopatologi silahkan pilih kategori "Psy Talks" yaa.
Yuk, kita mulai pembahasannya..


Mengenai Film 2 Garis Biru
Film yang disutradarai oleh Gina S. Noer ini berkisah tentang kekecauan dari hamil diluar pernikahan yang dialami Dara yang diperankan oleh Adhisty Zara dan Bima yang diperankan oleh Angga Yunanda. Dalam filmnya sendiri berceritakan Dara adalah siswi berprestasi di sekolah yang bermimpi melanjutkan kuliah ke Korea karena terinspirasi kecintaannya pada K-Pop. Sementara Bima adalah siswa dengan prestasi biasa saja namun baik hati dan sopan. Dara dan Bima juga berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Dara lahir dari keluarga kelas menengah sedangkan Bima berasal dari keluarga kelas bawah dan tinggal di perkampungan padat penduduk. 

Suatu hari, Dara dan Bima berpacaran melebihi batas hingga Dara pun hamil. Bima akhirnya meminta Dara menggugurkan kandungannya tapi Dara menolak. Mereka lantas memutuskan menyembunyikan kehamilan hingga kelulusan SMA yang tinggal beberapa bulan lagi. Tapi peristiwa lemparan bola yang tak sengaja mengenai perut Dara membongkar rahasia kehamilan ini. Orangtua Dara dan Bima pun dipanggil oleh pihak sekolah. Dara dikeluarkan dari sekolah sementara Mamanya (Lulu Tobing) juga tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan puterinya. Dara kemudian diboyong oleh keluarga Bima pulang ke rumah mereka. Tak lama berselang, Mama Dara pun luluh dan Dara kembali dibawa pulang ke rumah orangtuanya. Tapi tanpa diketahui Dara, Mamanya ternyata berniat memberikan bayinya pada orang lain jika nantinya telah lahir. Konflik pun terjadi, Dara menentang rencana mamanya. Bima juga menentang hal ini dan orangtuanya mendesak untuk segera menikahi Dara agar mereka tak kehilangan cucu. (Source sinopsis : Kompas.com)

Source : Pinterest
Apa yang Dapat Dikupas?
Sebagaimana yang kita ketahui, sex bebas di negara kita masih merupakan hal yang abnormal berbeda dengan negara-negara di luar sana yang mana sex bebas menjadi hal yang normal dan biasa saja. Pada film ini, tentunya menunjukkan adanya sex bebas pada Dara dan Bima karena terpengaruh hasrat mereka yang tidak dapat dikontrol. Mereka berdua sebenarnya juga tau bahwa tindakan tersebut bukanlah tindakan terpuji. Mengingat Bima juga merupakan anak yang baik dan sopan juga didikan orang tuanya yang baik pula. Sayangnya karena hasrat mereka, menyebabkan suatu kesalahan yang fatal hingga menyebabkan Dara hamil.

Dilihat dari ciri-ciri masa remaja menurut Hurlock yaitu salah satu cirinya masa remaja sebagai periode usia yang menimbulkan ketakutan sangat relate dengan apa yang terjadi pada film ini. Karena memang pada masa remaja ini perlu selalu mendapat pengawasan dari orang tua agar tidak seenaknya sendiri yang dapat menyebabkan berperilaku merusak.

Lagi-lagi, memang peran orang tua sangat penting bagi anak-anaknya yang sedang memasuki masa remaja. Perlu adanya pengawasan, bimbingan dalam tugas-tugas perkembangannnya juga dalam kasus di film tentunya perlu adanya sex-education. Hal ini dapat membantu anak untuk tidak seenaknya sendiri melakukan hal-hal yang dia mau dan suka terutama dalam sex bebas. Pada filmnya sosok Bima bisa dikatakan sosok yang bertanggung jawab, walau diawal-awal saat mengetahui dara hamil dan menyuruhnya untuk menggugurkannya. Tapi, pada akhirnya Bima bersedia untuk bertanggung jawab hingga menikahi Dara walau diakhir filmnya Dara memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya dan meninggalkan anaknya pada Bima dan keluarganya. 

So, itu dia pembahasan singkat pada review film kali ini.
Sampai bertemu ditulisan selanjutnya yaa❤
Stay safe, stay healthy, and stay happy fellas!



Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Assalamu'alaikum warahamatullahi wabarakatuh..
Masuk review film kedua nih fellas, yaitu "Review Film To The Bone (2017)" yang mana filmnya membahas mengenai gangguan makan anorexia nervosa juga berkaitan dengan psikopatologis pada remaja. Pemeran utamanya Lily Collins lho, fellas. Siapa nih penggemar Lily Collins? Pasti tau dong ya, film ini. Untuk pembahasan review sebelumnya, fellas bisa pilih kategori "Psy Talks" yaa.
Enjoy your reading fellas!


Film To The Bone Tentang Apa sih?
Film ini bercerita tentang seorang gadis yang bernama Ellen yang diperankan oleh Lily Collins mengidap anorexia nervosa, ia kehilangan selera untuk makan. Ellen kerap mengukur lingkar tangannya untuk memastikan agar lingkar tangannya tak melebihi cengkaraman tangannya. Ellen juga tidak pernah menghabiskan santapannya, hanya sedikit yang terkonsumsi dan sebagian dimuntahkan. Selain itu, sebelum tidur, Ellen sit-up untuk menghilangkan kalori di tubuhnya. Tubuh Ellen pun semakin hari semakin mengkhawatirkan, tubuhnya bahkan mulai menampakkan tulang.

Ibu tirinya, Susan (Carrie Preston), mendaftarkan Ellen ke program konsultasi khusus anoreksia yang dipimpin Dr. Beckham (Keanu Reeves). Di sebuah rumah yang tak terlalu luas, Ellen berinteraksi dengan pasien-pasien anorexsia lainnya. Di dalam rumah pemulihan tersebut pasien-pasien anorexia menganggap ruang makan adalah ruang penyiksaan. Penyebutan jumlah kalori pada makanan merupakan tindak kejahatan. Selain itu, upaya pemulihan juga menjadi sulit sebab pasien-pasien yang mempunyai siasat untuk menolak asupan. (Source sinopsis : Tribunnewswiki.com)

Bagaimana pembahasan film dengan psikopatologi remaja?
Pertama, penjelasan mengenai anorexia nervosa sendiri yang kita ketahui adalah termasuk dalam gangguan makan. Gangguan makan ini terjadi karena kebiasan pola makan yang tidak teratur akibat kekhawatiran atau adanya pola pikir yang salah tentang berat badan ataupun body image. Orang-orang yang mengalami anorexia nervosa ditandai dengan ciri-ciri yaitu mereka membatasi jumlah makannya yang dianggap dapat menyebabkan berat badannya naik. Hal ini biasanya dimulai dari makan yang sedikit-sedikit hingga benar-benar tidak makan sama sekali. Seperti dalam filmnya sendiri, menampilkan Ellen yang tidak pernah makan sama sekali. Bila Ellen makan, maka dia kerap membuang makanannya yang biasanya ditauh di tissu. Ellen juga kerap menghitung kalori yang ada pada makanan, mengukur lingkar lengannya, juga melakukan sit-up. 

Source : Pinterest
Dilihat pada filmnya sendiri Ellen mengalami anorexia nervosa karena ada permasalahan dalam hal relasi dengan orang tuanya yang mana Ellen memang berasal dari keluarga broken home.  Di filmnya pun, diceritakan bahwa ibu kandungnya juga mengalami issu psikologis yaitu seorang yang lesbian dan adanya gangguan bipolar. Walau memang permasalahan pada ibu kandung tidak tersorot secara kompleks. Terlihat adanya tuntutan yang dibebankan kepada Ellen sebagai seorang anak yang tidak Ellen penuhi. 

Secara etiologi, penyebab orang mengalami anorexia karena beberapa faktor. Yaitu bisa karena faktor genetik, faktor psikologis seperti adanya stress tertentu atau bisa karena persepsi yang salah mengenai body image atau karena dulu pernah mengalami bullying terkait kondisi fisik atau body shaming. Ada pula faktor lingkungan karena standar kecantikan perempuan saat ini dilihat dari bentuk tubuh yang langsing. Dari faktor-faktor tersebutlah yang dapat menyebabkan seseorang mengalami anorexia nervosa yang memang lebih sering terjadi pada remaja perempuan. Karena penerimaan perubahan saat pubertas perempuan lebih menerimanya ke pandangan negatif daripada remaja laki-laki yang lebih menerima secara positif. 

Dampak dari gangguan anorexia sendiri, tentunya secara fisik tulang-tulangnya akan terlihat atau menonjol seperti pada Ellen. Karena tidak adanya lemak dalam tubuh tentu menyebabkan mudah kedinginan, lalu bulu-bulu pada tubuhnya bertambah banyak, rambut Ellen terlihat tipis karena rontok. Jari-jari pun menjadi berwarna kebiruan, mata yang lesu juga nampak pada Ellen. Pada perempuan, anorexia menyebabkan menstruasi yang tidak lancar.

Dalam penanganan gangguan anorexia ada beberapa cara yang dapat dilakukan, tentunya individu yang mengalami gangguan ini harus datang ke ahli yang lebih profesional seperti ke psikolog. Biasanya dalam penanganan gangguan anorexia membutuhkan waktu yang lama. Cara pertama dapat dilakukan dengan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) yang bertujuan untuk merubah persepsi yang salah tentang body image yang salah. Kedua bisa dilakukan dengan Family Therapy seperti dalam filmnya sendiri yang lebih mengedepankan support system keluarga. Ketiga dengan Art Therapy, seperti yang dilakukan Ellen selalu menggambar apa yang ingin dia rilis emosinya bahkan keinginannya untuk makan cokelat juga dia tuangkan dalam bentuk gambar. Kemudian dengan bantuan farmakologi juga dibutuhkan bagi individu yang mengalami anorexia. 

Well, memang yang paling penting adalah Self-Love yang tak lain sebagai kunci untuk tetap menerima segala perubahan dalam bentuk yang ada pada diri kita, sehingga tentang persepsi bahwa cantik itu harus langsing akan kalah dengan cara self-love yang kita lakukan.

Sampai bertemu ditulisan selanjutnya❤
Stay safe, stay healthy, and stay happy fellas!


Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Assalamu'alaikum pembaca setia blognya Qorin..
Tulisan kali ini akan membahas mengenai "Dilema Guru yang Mengajar Anak Berkebutuhan Khusus di Masa Pandemi" yang belum usai ini. Pada tulisan sebelumnya Qorin membahas "Review Film Silenced (2011)" atau fellas bisa pilih kategori "Psy Talks" untuk melihat pembahasan lainnya yang berkaitan dengan pembahasan psikologi.
So, enjoy your reading fellas!


Siapa sih yang mengingikan pembelajaran jarak jauh? Di masa pandemi saat ini memang yang bisa diterapkan adalah pembelajaran jarak jauh. Tentunya pembelajaran jarak jauh ini menjadi sebuah tantangan pula bagi guru-guru yang mengajar anak berkebutuhan khusus. Karena memang anak berkebutuhan khusus dituntut konsentrasi selama pembelajaran baik via zoom meeting atau pun WA group.

Selain menjadi tantangan juga adanya kendala selama pembelajaran jarak jauh, yaitu siswa berkebutuhan khusus sendiri terutama anak autis sangat sulit untuk bisa konsentrasi mengikuti instruksi guru yang sedang mengajar via zoom meeting. Kendala kedua yaitu jaringan saat pembelajaran jarak jauh, terkadang jaringannya kurang stabil. Tentu menyebabkan pembelajaran menjadi terhambat dan tidak efisien.

Pandemi juga mengakibatkan ada beberapa kegiatan pembelajaran yang ditiadakan seperti kegiatan sosialisasi karena memang selama pandemi diharuskan untut stay at home. Maka pembelajaran saat ini yang ditekankan saat ini lebih pada pembinaan diri seperti, siswa dituntut untuk melakukan cara makan yang baik bagaimana, memakai baju dan celana, dan kegiatan yang tak lain juga merupakan rutinitas harian yang biasanya orang normal lakukan.

Disinilah peran orang tua juga sangat dibutuhkan, untuk pendampingan anak-anak berkebutuha khusus yang menjalani pembelajaran jarak jauh.  Karena sangat tidak memungkinkan bagi siswa berkebutuhan khusus membiarkan dengan sendirinya menggunakan hp ataupun laptop yang digunakan sebagai proses pembelajaran.  Sebagaimana memang yang kita ketahui anak berkebutuhan khusus berbeda dari anak normal, tentunya pendampingannya perlu ekstra pula.

Well, sampai disini dulu pembahasannya.
Sampai bertemu ditulisan selanjutnya ❤
Stay safe, stay healthy, stay happy fellas!



Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Hi fellas, selamat datang kembali di blognya Qorin. Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan di tengah pandemi yang tidak kunjung berakhir ini. Tahun baru harus semangat baru juga ya fellas. Untuk mengawali tahun baru 2021 ini, Qorin akan mereview film yang berkaitan dengan psikopatologi anak. Film yang akan dibahas adalah "Silenced (2011)" 
So, enjoy my first blog in 2021 fellas..

Film "Silenced" membahas tentang apa sih?
Film ini diadaptasi dari novel yang ditulis Kong Ji Young berjudul Dokani, dan disutradarai oleh Hwang Dong Hyuk yang ditayangkan pada tahun 2011. Perlu fellas ketahui bahwa dalam novelnya sendiri ditulis karena terinsipirasi dari kejadian nyata di sekolah khusus tunarungu di Gwangju, Korea Selatan.

Sedangkan filmnya sendiri, ceritanya bermula saat seorang guru bernama Kang In Ho yang diperankan oleh Gong Yoo ditugaskan mengajar di sebuah sekolah khusus siswa tunarungu di Kota Mujin. In Ho sangat bersemangat mengajar murid-murid barunya. Namun, anak-anak di sekolah tersebut justru senang menyendiri dan sengaja menghindarinya. Penolakan yang ditunjukkan murid-muridnya tak membuat In Ho menyerah. Dia terus berusaha mendekat dan menunjukkan kepeduliannya. 

Lambat laun, murid-murid di sekolah tersebut mulai terbuka dengan In Ho. Saat itu pula, In Ho menemukan fakta mencengangkan yang selama ini berhasil ditutupi pihak sekolah dengan rapi. Ternyata, siswanya banyak yang mengalami kekerasan fisik bahkan seksual. Mengetahui hal itu, In Ho berusaha memperjuangkan hak siswanya. Demi mengungkap kejahatan yang dilakukan di sekolah, In Ho bekerja sama dengan Seo Yoo Jin yang diperankan oleh Jung Yu Mi, aktivis Hak Asasi Manusia. In Ho dan Yoo Jin segera menyadari kalau kasus yang menimpa anak-anak tak sesederhana yang dipikirkan. Sebab, kasus tersebut juga melibatkan polisi, jaksa, dan komunitas gereja setempat. (source sinopsis : kompas.com)

Source : IDN Times
Bagaimana kaitannya dengan psikopatologi anak?
Kasus-kasus pelecehan seksual tidak hanya menghatui di negara Korea Selatan, tetapi juga di Indonesia. Apalagi pelecehannya terjadi pada anak-anak yang tentunya sangat miris sekali. Dalam film ini sendiri, korban dari pelecehan seksual yaitu Yoo-ri, Young-soo, dan Min-soo menimbulkan perilaku yang berbeda dari teman-teman lainnya. Seperti, menjadi tidak percaya lagi dengan orang-orang sekitar, menarik diri dari lingkungannya ditandai saat didekati dengan guru barunya, menjadi lebih pendiam, penakut, dan serba khawatir. Perilaku-perilaku yang muncul tersebut merupakan dampak psikologis dari pelecehan seksual yang terjadi pada mereka. 

Lalu, terkait dari pelecehan seksual pada anak sendiri yang timbul bukan hanya dampak psikologis saja tapi juga dampak secara fisik pada korban pelecehan seksual. Dampak secara fisik sendiri bisa ditandai dengan akan munculnya kesakitan-kesakitan yang timbul dikeesokan harinya karena organ reproduksi pada anak-anak memang belum cukup matang dan adanya pemaksaan dari pelaku pelecehan. 

Pelecehan seksual yang ada pada film ini terjadi karena adanya kesempatan, dikatakan kesempatan karena memang sekolahnya merupakan sekolah anak tuna rungu. Juga para siswa yang ada disini tidak memahami keadaan (adanya pelecehan seksual) disekitar sekolahnya karena mereka semua memang anak-anak berkebutuhan khusus. Ketika para korban pelecehan yaitu Yoo-ri, Young-soo, dan Min-soo tau bahwa hal ini merupakan hal yang salah, mereka akhirnya menutut keadilan dan menyampaikannya kepada orang lain. 

Sehingga, dari film ini bisa mengajarkan kita untuk lebih aware terhadap sex-education. Hal ini yang bisa kita lakukan untuk orang-orang sekitar kita baik adik kita, saudara kita demi mencegah kejahatan-kejahatan atau pelecehan seksual. Terutama pengawasan dan pendampingan orang tua kepada anak-anaknya sangat diperlukan guna menjadi langkah preventif dalam melawan dan melindungi diri dari pelecehan seksual yang terjadi pada anak-anak. 

Well, sekian review film pertama yang Qorin bahas. 
Nantikan review-review selanjutnya ya fellas❤
Stay safe, stay healthy, and stay happy everyone!












 

Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Hello fellas.. Sudah  memasuki bulan November nih, tidak terasa yaa tahun 2020 akan segera berakhir. Pada kesempatan kali ini, walau judulnya "Paradigma Psikopatologi Berdasarkan Psikodinamika" Qorin juga akan membahas mengenai anamnesa dan diagnosis multiaksial. Untuk topik-topik lainnya, teman-teman bisa melihat pada kategori "Psy Talks".
So, enjoy your reading everyone!

Paradigma adalah..
Suatu paradigma adalah serangkaian asumsi dasar, suatu perspektif umum yang menentukan cara mengonseptualisasikan dan mempelajari suatu subjek, cara mengumpulkan dan menginterpretasi data yang relevan, bahkan cara berpikir tentang suatu objek.

Lalu, Apa itu Psikopatologi?
Studi psikopatologi merupakan suatu upaya mencari penyebab mengapa orang memiliki perilaku, pikiran, dan perasaan yang tidak diharapkan, kadangkala aneh, dan umumnya merusak diri sendiri.

Bagaiamana Dengan Psikodinamika?
Psikodinamika merupakan perkembangan dari psikoanalisa, tapi intinya tetap mengacu pada teori psikoanalisa Sigmund Freud. Jadi dalam psikodinamika terdapat tokoh-tokoh lain pengikut Sigmund Freud. Dan dalam psikodinamika, psikopatologi sebagai akibat dari :
1. Konflik-konflik yang tidak disadari sehingga menimbulkan kecemasan.
2. Mekanisme pembelaan ego yang tidak fleksibel.

Anamnesa adalah..
Anamnesa merupakan pengganti kejadian yang dialami individu dari dulu hingga sekarang yang dinyatakan dalam bentuk kalimat dan kata-kata. Untuk lebih menyaring data maka diperlukan protokol yaitu daftar pertanyaan berupa butir-butir yang diperkirakan memiliki makna penting bagi orang tersebut dan validasi dari datanya. Kemudian bertanya pada pihak-pihak lain yang terlibat untuk kemudian pernyataan-pernyataan yang diperoleh tersebut dibandingkan.

Untuk menyusun anamnesa yang diperlukan adalah :
1. Data yang diperoleh hendaknya dicatat secara rinci
Bila jawaban klien tidak pasti, maka harus disertai catatan bahwa terdapat keraguan dari klien tentang data yang dinyatakannya tersebut. Jadi, dalam mencatat kita tidak boleh mengembangkan jawaban klien. Pun dengan konotasi yang diungkapkan tidak memiliki arti ganda misalnya, cerdas harus mempunyai pengertian yang seragam bagi semua orang.

2. Dalam mengambil anamnesa, kita harus mempunyai konsep teoritik yang cukup eksplisit, sehingga dengan demikian kita akan pergi untuk menangkap data-data dan langsung dapat menempatkan data itu dalam kerangka teori kita, sehingga interpretasi kita tidak kacau dan tetap terarah

Dalam anamnesa jangan menekankan pada satu masalah misalnya, masa lalu, sekarang dan yang akan datang. Tetapi semuanya dicari kaitannya dan dicari gabungannya sesuai dengan teori yang dipakai.

Diagnosis Multiaksial
Diagnosis merupakan aspek penting dalam bidang psikologi abnormal adanya sistem klasifikasi yang disepakati bersama memungkinkan para ahli klinis saling berkomunikasi secara efektif dan memudahkan upaya untuk menjadi penyebab dan penanganan berbagai psikopatologi. Suatu diagnosis multiaksial diyakini memberikan deskripsi gangguan mental yang lebih multidimensional dan bermanfaat tentang gangguan jiwa pasien.

Diagnosis Multiaksial terdiri dari 5 aksi yaitu :
Aksis I     : Mencakup gangguan klinis dan kondisi lain yang menjadi fokus perhatian klinis.
Aksis II    : Mencakup gangguan kepribadian dan retradasi mental.
Aksis III   : Mencakup kondisi medik umum.
Aksis IV   : Masalah psikososial dan lingkungan.
Aksis V    : Mengenai penilaian fungsi secara global.

Well, segitu dulu pembahasan kali ini.
Sampai bertemu ditulisan selanjutnya❤
Stay safe, stay healthy everyone!


Reference :
1. Davison, Gerald C, John M. Neale & Ann M. Kring 2006. Psikologi Bbnormal Edisi ke-9. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
2. Maslim, Dr. dr. Rusdi, Sp. KJ, M. Kes. (2019). Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas Dari PPDGJ-III DSM-5 ICD-11 Cetakan-3. Jakarta: FK Unika. Atmajaya.








Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Assalamu'alaikum pembaca setianya Qorin yang luar biasa..
Sebelumnya Qorin sudah membahas "Normal dan Abnormal" dan kali akan membahas mengenai "Perspektif Perilaku Abnormal". Qorin akan memberikan sedikit gambaran mengenai konsep perilaku abnormal dalam 4 perspektif yaitu psikoanalisa, humanistik, behavioristik, and kognitif. 

1. Perspektif Psikoanalisa

Bagi Freud, alam bawah sadar merupakan faktor penting penentu tingkah laku manusia dibandingkan alam sadarnya. Freud percaya bahwa berbagai bentuk abnormalitas diakibatkan oleh dorongan yang kuat atau insting id, yang mengawali tahap perkembangan konflik-konflik yang tidak disadari yang terkait dengan tahap perkembangan psikoseksual tertentu. 

Semisal, seorang gadis yang takut pada kekotoran dan secara obsesif membersihkannya. Hal ini dapat ditelusuri pada tahap anal, ketakutan pada keteratirkannya di masa kecil terhadap tinjanya yang berserakan., mungkin diakibatkan oleh orang tuanya yang sangat ketat dan tidak suka atau jijik ketika dia melakukan toilet training.
Jadi pada perspektif ini abnormalitas bisa saja terjadi karena adanya pengaruh ketidaksadaran dalam perilaku, pengalaman-pengalaman masa kecil yang membentuk kepribadian di masa dewasa, juga adanya penggunaan mekanisme pertahanan untuk mengontrol kecemasan atau stres.

2. Perspektif Humanistik

Dalam perspektif ini untuk memahami tingkah laku seseorang sangat penting melihat atau mengalami dunia dari segi pandangannya sendiri karena tingkah lakunya disebabkan oleh pilihan sadarnya dan pilihannya itu dipengaruhi oleh persepsi pribadinya tentang situasi. 
Source : Pixels
Adapun hambatan yang menjadi penyebab gangguan dalam perilaku menurut perspektif ini yaitu :
1. Penggunaan mekanisme pertahanan diri yang berlebihan 
2. Kondisi sosial yang tidak menguntungkan.
3. Stres yang berlebihan.

Menurut Rogers, perilaku abnormal adalah hasil dari perkembangan self-concept yang terganggu. Sedangkan Maslow berpendapat apabila manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya maka akan terjadi perilaku abnormal.

3. Perspektif Behavioristik

Dalam perspektif behavioristk, abnormalisats berasal dari kebiasaan-kebiasaan maladaptive yang terus-menerus dilakukan baik melalui : classical conditioning, operant conditioning, dan modelling. Skinner berpendapat bahwa kebebasan memilih adalah mitos, dan semua perilaku ditentukan oleh berbagai penguat yang tersapat di lingkungan. Misalanya, ketika seorang anak memukul temannnya untuk mempertahankan mainannya. Orang tua si anak tanpa disadari menguatkan agresi dengan mengalah ketika anak marah dan melakukan kekerasan untuk mencapai tujuannya, seperti tidur larut malam untuk menonton tv. Nah, renspons-renspon agresif pada anak inilah seringkali diberi penghargaan, yang membuat kemungkinan di masa depan muncul renspon agresif yang lebih besar.

Sedangkan contoh perilaku abnormal dalam modeling, seperti, anak-anak dari orang tua yang memiliki masalah penyalahgunaan zat. Maka anak-anak tersebut dapat memiliki pola perilaku yang sama yang tak lain diperoleh melalui pengamatannya.  Jadi, perilaku abnormal menurut perspektif ini merupakan hasil dari perilaku yang bertahan disebabkan berbagai kejadian hadiah atau hukuman yang mendorong pola respon yang bermasalah. 

4. Perspektif Kognitif

Dalam perspektif kognitif menjelaskan tingkah laku abnormal berdasarkan pikiran- pikiran yang keliru dan proses-proses pikiran yang kalut (Beck & Emery, 1985). Biasanya masalah-masalah yang berkenaan dengan pikiran dianggap sebagai simtom-simtom dari gangguan-gangguan psikologis, tetapi dalam pandangan kognitif, pikiran-pikiran itu dilihat sebagai penyebab dari gangguan-gangguan itu. 

Masalah-masalah dengan isi kognitif (pikiran-pikiran) adalah masalah-masalah dengan apa yang dipikirkan. Bila kita memiliki informasi yang salah tentang suatu situasi, maka respons kita terhadap situasi itu juga mungkin salah atau abnormal.

Source : Pixels
Para ahli teori berpendapat bahwa banyak tipe gangguan mental disebabkan oleh masalah-masalah yang menyangkut isi kognitif. Misalnya, seorang individu mengalami depresi karena ia berpikir ”aku adalah seorang yang tidak berharga”, atau mungkin bila teman-teman berpendapat bahwa seekor ular kecil yang tidak berbisa adalah berbahaya, maka teman-teman akan mengadakan respons dengan suatu ketakutan abnormal (menderita suatu fobia). Contoh-contoh ini menggambarkan cara-cara bagaimana isi kognitif yang salah bisa menimbulkan suatu penilaian yang salah terhadap suatu situasi dan pada akhirnya menimbulkan tingkah laku abnormal.

Terkadang kita semua bertingkah laku secara tidak tepat karena kita melebih-lebihkan makna dari suatu peristiwa, membiarkan perhatian kita hilang, atau membuat kesalahan asosiatif yang menyebabkan kesalahpahaman. Jika benar bahwa tingkah laku kognitif dari orang-orang yang kacau hanya merupakan hal- hal yang ekstrem dari tingkah laku kognitif yang terlihat pada orang-orang normal, maka pengetahuan kita yang luas tentang tingkah laku kognitif dari orang-orang yang normal dapat digunakan untuk memahami tingkah laku abnormal.

So, bagaimana fellas? 
Qorin, berharap teman-teman bisa memahami bagaiamana konsep perilaku abnormal dari 4 perspektif diatas.
Sampai bertemu ditulisan selanjutnya❤
Stay safe, stay healthy, and stay happy!


Reference :
1. Markam, Suprapti Slamet I. S. Sumarmo. 2003. Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta: Penerbit UI Press.
2. Davison, Gerald C, John M. Neale & Ann M. Kring 2006. Psikologi Bbnormal Edisi ke-9. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Masih dalam topik psikologi nih, kali ini Qorin akan membahas "Normal dan Abnormal". Teman-teman juga dapat membaca pembahasan topik lainnya yang berkaitan dengan psikologi pada kategori "Psy Talks". 


Di kehidupan sehari-hari, tentunya kita menjumpai perilaku-perilaku yang mungkin membuat kita bertanya-tanya "apakah perilaku tersebut masih normal yaa?" atau mungkin ada yang menanyakan pada dirinya sendiri karena perilaku yang dianggapnya berbeda, "apa aku masih normal atau jangan-jangan abnormal nih?". Misalnya, ada seorang ibu selalu mengeluh karena anak-anaknya yang sudah remaja dan duduk dibangku SMA tidak ada yang peduli dengan pekerjaan di rumah. Setiap pulang sekolah langsung masuk ke kamar masing-masing dan sibuk dengan dunianya sendiri. Bahkan si Ibu ini harus menyindir dahulu, terkadang juga ketika bersih-bersih dapur ada saja barang yang sengaja dibanting yang tak lain tujuannya agar anak-anaknya peka dalam membantu pekerjaan di rumah. Menurut si Ibu, anak-anaknya tersebut tidak ada rasa tanggung jawab sama sekali dalam membantu pekerjaan rumah. Kira-kira menurut teman-teman, apakah perilaku anak-anak tersebut normal? atau malah sebaliknya?

Nah, sebelum menjawab pertanyaan tersebut. Qorin akan menjelaskan terlebih dahulu apa itu perilaku normal dan abnormal.

Perilaku Normal

Prilaku normal sendiri merupakan perilaku yang konsisten dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya. Perilaku normal ini juga merupakan perilaku yang diharapkan atau sesuai dengan situasi.
Untuk mengetahui apakah perilaku-perilaku disekitar kita normal atau tidaknya. Terdapat 2 pendekatan yang berbeda sebagai pedoman mengenai perilaku yang normal, yaitu : 

1. Pendekatan Kuantitatif
Sifatnya berdasarkan sering atau tidaknya sesuatu terjadi, yang diperkirakan secara subjektif mengikuti pemikiran awam. Misalnya, pria berambut gondrong saat ini adalah hal yang normal untuk masa kini. Kalau kita semakin sering melihat pria berambut gondrong, maka kita akan menganggap bahwa itu adalah hal yang normal. Tapi jika semakin jarang kita melihat hal tersebut, maka kita mengganggap hal itu adalah suatu yang abnormal. 

2. Pendekatan Kualitatif
Untuk pendekatan ini menggunakan pedoman-pedoman yang normatif, yang tidak berdasarkan perhitungan atau pemikiran awan. Jadi pendekatan ini atas observasi empirik pada tipe-tipe ideal seperti di bidang biologis atau bidang kultural-sosial. Misalnya, orang-orang di Jawa yang makan daging sapi dianggap sebagai sesuatu yang normal. Namun bila hal tersebut dilakukan oleh orang-orang di Bali atau yang beragama Hindu, hal itu menjadi sesuatu yang dianggap abnormal.  Karena kulturnya mereka tidak makan makanan yang dari daging sapi.  Jadi pada pendekatan ini, pedoman normatif sangat terikat dengan keadaan sosial budaya.

Perilaku Abnormal

Abnormal sendiri berarti tidak normal, atau perilaku menyimpang dari suatu standard yang bisa saja diatas normal atau di bawah normal. Jadi jika seorang individu menujukkan suatu yang berbeda, tidak mengikuti aturan yang berlaku, mengganggu dan tidak tidak dapat dimengerti dengan kriteria yang biasa, maka tingkah laku tersebut dianggap abnormal. 

Ada beberapa karakteristik yang dianggap sebagai komponen perilaku abnormal, yaitu :

1. Kejarangan Statistik
Salah satu aspek perilaku abnormal adalah karena perilaku tersebut jarang ditemukan.

2. Pelanggaran Norma
Karakteristik lain yang dipertimbangkan dalam menentukan abnormalitas adalah apakah perilaku tersebut melanggar norma sosial atau mengancam atau mencemaskan bagi orang lain yang mengamatinya. Selain itu keragaman budaya dapat mempengaruhi bagaimana orang-orang memandang norma sosial  dalam suatu budaya mungkin dianggap abnormal dalam budaya lain.

3. Distress Pribadi
Tekanan pribadi yaitu, perilaku dinilai abnormal jika menciptakan tekanan dan siksaan besar pada orang yang mengalaminya. Dan tidak semua bentuk distress masuk dalam abnormalitas sebagai contoh, kelaparan atau rasa sakit setelah melahirkan.

4. Disabilitas atau Disfungsi Perilaku
Disabilitas, yaitu ketidakmampuan individu dalam beberapa bidang penting dalam hidup (misalnya, hubungan kerja atau pribadi) karena abnormlitas, juga dapat menjadi komponen perilaku abnormal. Tapi tentu tidak semua disabilitas masuk dalam abnormalitas, misalnya teman-teman memiliki tubuh pendek dan ingin menjadi pemain bola basket profesional. Tentu hal tersebut tidak termasuk abnormalitas.

5. Yang tidak Diharapkan (Unexpectedness)
Distress dan disabilitas sering kali dianggap abnormal apabila hal tersebut merupakan respon yang tidak diharapkan terhadap stresor lingkungan (Wakefield, 1992). Sebagai contoh, gangguan anxietas didiagnosis bila kecemasan tidak diharapkan dan diluar proporsi dalam situasi, sebagaimana bila seseorang selalu cemas akan situasi keuangannya.

Nah, kembali pada permasalahan yang diatas. Apakah anak-anak tersebut bertingka laku normal atau abnormal? Tentunya anak-anak yang demikian cukup banyak di kehidupan masa kini. Jika dalam prestasi sekolah dan hubungan antarmanusia selain di rumah tidak ada hal-hal yang mengganggu, maka secara pendekatan kuantitatif dapat dianggap normal meski tidak ideal. Tapi bukan  berarti perilaku anak-anak tersebut tidak perlu diubah yaa.

Jadi yang perlu digaris bawahi untuk penilaian apakah suatu tingkah laku dapat disebut normal atau abnormal harus dipertimbangkan baik menggunakan kriteria kuantitatif ataupun kualitatif. Pun dalam karakteristik yang dianggap sebagai komponen perilaku abormal.

Teman-teman juga bisa melihat video dibawah ini untuk menambah pengetahuan mengenai  perbedaan normal dan abnormal.

Sampai bertemu ditulisan selanjutnya❤
Stay safe, stay healthy everyone!

#PsikologiKlinis
Qorina Choirun Nisa'  S  (1511900170)


Reference :
1. Markam, Suprapti Slamet I. S. Sumarmo. 2003. Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta: Penerbit UI Press.
2. Davison, Gerald C, John M. Neale & Ann M. Kring 2006. Psikologi Bbnormal Edisi ke-9. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.



Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

Hello.. Qorin Here

Hello.. Qorin Here
a woman who has lots of dreams. Hope you enjoy 'ur reading everyone ❤

Follow Me

  • instagram
  • soundcloud
  • Google+
  • steller

Categories

  • BLOG
  • POEMS
  • PSY TALKS
  • STORIES

Blog Archive

  • September 2018 (3)
  • October 2018 (1)
  • March 2019 (3)
  • August 2019 (1)
  • September 2019 (1)
  • December 2019 (1)
  • January 2020 (1)
  • February 2020 (1)
  • May 2020 (1)
  • July 2020 (1)
  • September 2020 (2)
  • October 2020 (4)
  • November 2020 (2)
  • January 2021 (8)
  • June 2023 (1)
  • September 2024 (1)

Total Pageviews

Translate

Blogger Perempuan

Created with by ThemeXpose