• Home
  • Poems
  • Blog
  • Stories
    • Category
    • Category
  • Psy Talks
instagram soundcloud Email

Qorina Sahudi

"Thoughts, Stories and Memories.."


Ku kira sepanjang perjalanan ini,
aku bisa mengenalmu dengan sangat baik.
Hingga aku lupa bahwa nyatanya,
kamu juga punya mimpi.

Aku masih akan menanti,
Egois rasanya jika hanya aku yang bermimpi,
kamu juga layak bermimpi.

2024 ternyata adalah tahunmu,
selamat! gelar barumu tiba juga.
2024 ternyata adalah tahunmu,
mimpi barumu yang lain segera dimulai.

"Oh, begini rasanya menyukai laki-laki yang ambisius" 
kataku yang tak sadar bahwa aku ambisius juga.

Aku masih akan menanti,
dalam doaku, dalam diamku.
Aku masih akan menanti,
kepulanganmu 
yang entah harus menunggu berapa lama?
yang entah akankah kita bisa bertemu?

Yang ku tau, kita sedang berjalan
berjalan dengan tujuan yang berbeda,
mengejar mimpi-mimpi yang tidak mudah.
Namun izinkan aku menanti,
entah sampai kapan?

Banyuwangi, 2024




Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Sunrise, Malang, Indonesia (2023)

Kali kedua penyambutan,
akan kepulanganmu
aku,
masih menanti.

Ditengah pembicaraan,
segala mimpi-mimpimu
aku,
juga masih menanti.

Malam itu,
aku,
memberi bulan & sunrise 
padamu.

Kali ini,
aku,
menemani langkahmu
dari langit yang sama.

Kurun waktu 2020,
& penyambutan tahun ini,
aku,
masih sama,
menanti & menemanimu.


Banyuwangi,
#TulisanQorin












Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Assalamu'alaikum pembaca setia blognya Qorin yang selalu semangat..
Qorin hadir untuk mereview film lagi nih, fellas. Film yang Qorin bahas kali ini merupakan film drama yang juga ada kaitannya lho dengan psikopatologi dewasa. Untuk pembahasan review film-film lainnya, silahkan pilih kategori "Psy Talks" ya fellas.
So, enjoy your reading fellas!

Mengenai Film Still Alice
Film ini diawali dengan perayaan ulang tahun Alice yang ke 50 dengan suaminya, seorang ahli laboratorium bernama John Howland (Alec Baldwin), anak perempuan tertuanya Anna (Kate Bosworth) beserta suami Anna/menantu Alice, Charlie Jones (Shane McRae), dan putra keduanya Tom Howland (Hunter Parrish). Namun tidak dihadiri oleh putri bungsunya Lydia Howland (Kristen Stewart) yang sibuk dengan urusan teaternya. Keluarga Howland bisa dibilang semuanya sukses dengan karirnya, John dan Alice dikenal sebagai profesor, putri pertamanya kuliah hukum dan sudah menikah, putra keduanya Tom seorang dokter ahli bedah, kecuali Lydia yang susah diatur dan tidak mau kuliah. Ia tetap bersih keras menjalani dunianya sebagai pemain teater di California.

Semuanya berjalan dengan biasa saja sampai pada sebuah seminar Alice tiba-tiba lupa dengan apa yang ia harus katakan selanjutnya. Ditambah lagi saat ia joging di sekitar kampus Universitas Columbia, ia seperti orang linglung. Karena merasa dirinya aneh, Alice coba menemui Dr. Benjamin (Stephen Kunken), seorang dokter syaraf yang ia rasa bisa membantunya. Setelah melakukan tes tentang daya konsentrasi, Alice mengira dirinya sedang mengalami perubahan hormon karena menopouse. Ia juga sempat berpikir dan takut dengan bayang-bayang tumor yang bisa saja menjadi penyebab keanehannya.  Alice ternyata mengidap Alzheimer dini. Penyakitnya termasuk langka karena ia mengidapnya di usia yang masih cukup muda, meski usianya sudah 50 tahun, karena rata-rata diderita oleh orang-orang tua. Dokter yang memeriksanya mengatakan bahwa penyakitnya adalah penyakit turunan dan akan sangat berpengaruh juga jika si pengidap termasuk orang yang pintar. (Source sinopsis : Tribunnewswiki.com)
Source : Pinterest
Apa yang Bisa Dibahas Dari Film Ini?
Di film tersebut, kita juga sudah mengetahui bahwa tokoh utamanya yaitu Alice mengidap Alzheimer saat dia berkonsultasi dengan dokternya, Alzheimer sendiri merupakan penyakit yang mengakibatkan pada menurunnya daya ingat, juga memori dan kognitifnya, kemampuan berpikir dan biasanya bicaranya terus menurun. Biasanya dialami oleh orang-orang yang berusia diatas 60 tahun. Alice sendiri memori dan kemampuan kognitifnya pun sudah ada tanda-tandanya yaitu pelupa atau pikun. Jadi sebelum Alice lansia, prosesnya pun sudah terjadi pada diri Alice.

Biasanya ketika sudah mulai lupa atau pikun terjadi, para lansia menjadi mudah cemas, mudah tersinggung, mudah curiga, marah-marah pada orang-orang sekitarnya. Terutama pada Alice yang berprofesi menjadi seorang profesor, dia merasa cemas ketika kemampuan kognitif dan juga memorinya mulai menghilang dari dirinya. Bila orang terdekat kita mulai mengalami kecemasan, hal yang dapat kita lakukan adalah untuk lebih peduli dan menyayangi mereka. Jika yang kita tunjukkan bahwa kita selalu ada untuk mereka, tentunya mereka akan merasa aman dan nyaman sehingga bisa mengurasi rasa cemas tersebut.

Yang paling penting adalah penyakit Alzheimer ini merupakan suatu penyakit progresif yang tidak dapat disembuhkan dimana sel-sel kortikal menjadi hilang. beberapa gen mungkin memiliki peranan dalam penyakit Alzheimer ini. Seperti halnya Alice yang mengidap Alzheimer karena faktor genetik atau keturunan dari ayahnya, pun salah satu anak dari Alice yang bernama Anna juga mengalami hal serupa. Sedangkan riwayat cedera kepala dan depresi juga merupakan faktor resiko. 

Nah, itu dia sedikit review mengenai film Still Alice ini.
Semoga bermanfaat ya fellas.
Sampai bertemu ditulisan selanjutnya❤
Stay safe, stay healthy, and stay happy!


Reference :
Davison, Gerald C, John M. Neale & Ann M. Kring 2006. Psikologi Bbnormal Edisi ke-9. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.




Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Hi fellas, tulisan blog kali ini masih dalam pembahasan mengenai psikopatogi. Lebih tepatnya membahas psikopatologi pada lansia yaitu "Demensia". Barangkali fellas punya kakek atau nenek yang lupa sama cucunya.. Kira-kira apa ya yang menjadi penyebab kakek dan nenek kita lupa ke kita?
Silahkan disimak sampai akhir ya..


Biasanya kita menyebut demensia dengan istilah kepikunan, secara lengkapnya demensia sendiri merupakan adanya kemunduran pada kemampuan intelektual seseorang hingga ke titik yang melemahkan fungsi sosial dan pekerjaan seseorang. Yang perlu fellas ketahui bahwa demensia ini biasanya lebih banyak menyerang lansia atau orang-orang yang bersuia 65 tahun keatas lho. Jadi jangan heran ya, bila kakek nenekmu lupa pada cucunya sendiri. Nah, demensia sendiri juga terjadi sangat perlahan selama bertahun-tahun dan kelemahan pada kognitif juga behavioral yang hampir tidak terlihat bisa terdeteksi lho, bahkan jauh sebelum orang tersebut menampakkan secara jelas gejala yang ada.

Lalu apa ya yang disebut dengan demensia vaskular?
Demensia vaskular ini biasanya dapat terlihat ketika seseorang yang mengalami demensia menunjukkan gejala-gejala neurologis seperti adanya kelemahan pada pada satu lengan atau refleks-refleks abnormal, bisa juga ketika adanya pemindaian otak menunjukkan adanya penyakit serebrovaskular. Biasanya yang paling umum dan sering kali terjadi, orang-orang yang mengalami demensia vaskular terkena serangkaian stroke karena adanya penebalan yang melemahkan sirkulasi dan menyebabkan kematian sel. Demensia vaskular ini bukan karena faktor genetik. Resiko yang tinggi dapat menyebabkan seseorang mengalami demensia vaskular karena adanya faktor resiko yang sama bagi penyakit kardiovaskular pada umumnya, seperti kadar kolestrol jahat (LDL) yang tinggi. 

Apa saja penyebab seseorang mengalami demensia?
Tentunya banyak sekali penyebab mengapa seseorang dapat mengalami demensia. Ada beberpa penyakit infeksi yang menyebabkan demensia tidak dapat disembukan. Seperti, meningitis, ensefalitas, juga organisme yang menyebabkan penyakit kelamin sifilis dapat masuk ke otak dan menyebabkan demensia. Lalu HIV dan AIDS menjadi salah satu penyebab demensia juga yang tidak dapat disembukan. Adanya trauma kepala, tumor pada otak, kekurangan nutrisi, gagal ginjal atau hati, dan masalah kelenjar endokrin seperti hipertiroidisme dapat pula menyebakan demensia. 

Untuk penanganan medis yang tepat, seperti mengembalikan keseimbangan hormonal yang  memberikan manfaat dapat dilakukan apabila penyebab demensia dapat dicegah. Oleh karenanya, hal utama yang dapat kita lakukan apabila kita memilki kakek nenek atau memiliki orang tua yang terkena demensia adalah merawatnya dengan sepenuh hati dan ikhlas dan penuh kesabaran.

Well, itu dia pembahasan mengenai demensia. 
Semoga bermanfaat ya fellas.
Sampai bertemu ditulisan selanjutnya❤
Stay safe, stay healthy, and stay happy!

Reference :
Davison, Gerald C, John M. Neale & Ann M. Kring 2006. Psikologi Bbnormal Edisi ke-9. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Assalamu'alaikum pembaca setia blognya yang selalu semangat..
Judul baru dengan review yang baru pula, biasanya Qorin review film. Sekarang berganti ke drama Korea nih, fellas. Qorin akan mereview drakor yang berjudul "Everyone is There" dengan kaitannya psikopatologi pada dewasa yaitu gangguan Dissociative Identity Disorder (DID) yang biasa disebut dengan gangguan kepribadian ganda.
Pengen tau pembahasannya? Simak sampai akhir ya fellas!


Mengenai Drama Everyone is There Membahas Tentang Apasih?
Mini drama ini ceritanya berfokus pada kisah seorang remaja SMP bernama Soo Yeon yang diperankan oleh Roh Jeong Eui, yang dikenal pendiam dan tertutup. Ia tumbuh dalam keluarga berkecukupan, namun sayangnya mengalami nasib kurang beruntung di sekolah. Soo Yeon menjadi korban bullying dari teman-temannya. Hingga pada suatu hari, ia tak tahan lagi dan berniat mengakhiri hidup. Untungnya, ada sosok penyelamat yang berhasil meyakinkan Soo Yeon untuk mengurungkan niatnya. Sejak saat itu, Soo Yoon dan penyelamatnya mulai melawan dan membalas semua siswa yang pernah melecehkannya. Di sisi lain, Soo Yoon mempunyai saudara kembar bernama Jung Yeon (juga diperankan Roh Jeong Eui). Meski wajahnya begitu mirip, kepribadian keduanya sangat berbeda. Jung Yeon tumbuh menjadi remaja yang kasar bahkan tak segan melakukan tindakan kriminal demi menghasilkan uang. (Source sinopsis : Kompas.com)

Lalu Bagaiamana Kaitannya dengan Psikopatologinya?
Drama ini yang kita ketahui memang tokoh utamanya memiliki gangguan kepribadian ganda atau bisa disebut dengan DID. Secara singkatnya DID sendiri merupakan gangguan kepribadian ganda yang terjadi pada seseorang yang mana bisa berperan dalam berbagai peran. Soo Yeon diceritakan pada drama ini memiliki 3 peran yang ia memiliki yaitu menjadi anak pendiam, lalu berperan sebagai anak kembar yang memiliki sifat agresif, dan peran ketiga yaitu menjadi konselor yang tak lain guru BK di sekolahnya. 

Source : Pinterest
Sayangnya, memang dalam drama ini tidak diceritakan secara gamblang mengenai masa kecilnya hanya sekedar diberitahu bahwa Soo Yeon ini termasuk anak broken home. Yang dapat kita pahami dalam drama ini yang menjadi penyebab Soo Yeon ini mengalami gangguan DID bisa saja karena adanya trauma karena orang tuanya bercerai. Dalam prosesnya sendiri ketika memang Soo Yeon mengalami trauma di masa kecil maka terbentuklah yang dinamakan fiksasi. Fiksasi ini terjadi dari suatu peristiwa yang diingat seseorang lalu mengendap sehingga meninggalkan kesan yang kuat. lalu dari sinilah juga menyebabkan terhambatnya peristiwa-peristiwa yang harus diekspresikan seperti mungkin pada tokoh Soo Yeon ingin protes, ingin marah, tidak setuju dengan keputusan orang tuanya yang bercerai, marah juga benci, tetapi semua itu tidak sempat terekspresikan keluar. 

Ketika peristiwa-peristiwa atau pengalaman di masa kecilnya terfiksasi lalu berada di dslam dirinya, sebenarnya hal ini direpres ke alam bawah sadarnya. Ketika ada peristiwa yang sama atau hampir mirip dengan persitiwa-peristiwa yang tidak terekspresikan di alam bawah sadarnya akan muncul dalam bentuk seperti adanya salah persepsi sehingga menimbulkan perilaku-perilaku yang berbeda salah satunya adanya gangguan DID. 

Dalam penanganan gangguan DID ini semakin banyak peran atau kepribadian yang dimainkan tentunya semakin berat pula penanganannya. Hal yang dapat dilakukan adalah adanya psikoterapi guna menyatukan semua kepribadian yang ada, sehingga menjadi kepribadian yang utuh kembali juga membantu dalam menghadapi trauma di masa lalunya yang tak lain menjadi penyebab seseorang mengalami gangguan DID. Selain itu terpai keluarga juga bisa dilakukan dalam proses penanganan DID. Atau dengan pemberian obat-obatan bila diperlukan untuk meredakan gejala yang ada.

So, itu dia review drama serta pembahasan mengenai psikopatologi pada dewasa.
Sampai bertemu ditulisan selanjutnya❤
Stay safe, stay healthy, and stay happy fellas!











Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Hi fellas, jumpa lagi di blognya Qorin. Masih dalam pembahasan berkaitan dengan psikopatologi pada dewasa, topik kali ini mengenai "Adiksi Pada Ganja".  Seperti apa ya kira-kira?
Simak sampai akhir ya fellas!

Penyalahgunaan narkotika belakangan ini sudah tidak asing ditelinga kita, banyak selebritis yang menggunakan narkotika dengan alasannya yang berbagai macam. Bukan hanya selebritis, tapi kalangan orang biasa tentunya masih ada yang menggunakan dan menyalahgunakan narkotika. Narkotika merupakan zat yang secara alaminya atau buatan dapat mempengaruhi cara kerja otak kita. Ketika seseorang menggunakan narkotika, maka zat-zat yang ada atau obat-obatannya tersebut akan mempengaruhi fungsi berpikir, perilaku, juga emosi seseorang.

Ganja sendiri merupakan narkotika golongan 1 yang memiliki kandungan utama yaitu kanabinoid yang berfungsi membuat penggunanya menjadi lebih relax. hal ini lah yang juga mempengaruhi cara kerja otak dan menyebabkan sensasi tubuh termasuk mempengaruhi perilaku juga memori. Yang mana dari efek-efek tersebutlah membuat para penggunanya mengalami adiksi atau kecanduan. Oleh karenanya, ganja ini harus dibatasi dalam penggunaannya.

Tentunya banyak penyebab mengapa seseorang menggunakan ganja, bisa dari faktor  lingkungan misalnya karena ajakan temannya. Bisa dari faktor mengalami gangguan psikologis karena stress terus-menerus, adanya depresi, memiliki kecemasan, yang menyebabkan seseorang memilih pelarian yang keliru dengan menggunakan ganja tersebut. Karena memang efek relaksasi dan menenangkan yang dimunculkan dari kandungan kanabinoid  inilah yang membuat seseorangnya menjadi adiksi. Dari kandungan tersebut pula oleh penggunanya dijadikan sebagai obat tidur, agar tidurnya menjadi lebih cepat dan nyenyak.

Efek ganja tentunya berbeda dari pengguna satu ke pengguna lainnya tergantung dari dosis yang digunakan dan variabel internal dalam diri seseorang. Pengguna ganja biasanya ditandai dengan kulit yang cenderung kusam, terlihat kurus, menimbulkan perilaku yang khas seperti munculnya halusinasi, energi yang tidak ada habisnya walau sudah beraktivitas seharian tapi juga ada yang menjadi lesu dan mudah mengantuk. Dilihat efek negatifnya dari sisi psikologis biasanya pengguna ganja terlihat moodswing ketika berinteraksi dengan orang lain, adanya symptom-symptom depresi, mudah gelisah, jika penggunaannya dalam jangka panjang juga bisa menyebabkan perubahan pola tidur dan makan.

Nah, untuk penanganan orang-orang adiksi ganja sendiri baik rehabilitas da pengobatannya memang bisa dikatakan memiliki tahapan yang sangat panjang. Yang sangat dibutuhkan disini adalah adanya motivasi untuk sembuh juga support system dari orang-orang sekitarnya. Karena tanpa adanya motivasi dan support system dan ketika komitmen untuk  kembali normal berkurang, maka bisa saja di tahap awal dalam proses pengobatan dan rehabilitas orang tersebut menyerah dan mengakibatkan kembali menjadi penggguna ganja.

Well, itu dia pembahasan mengenai adiksi pada ganja.
Semoga tulisan kali ini bermanfaat ya fellas.
Sampai bertemu ditulisan selanjutnya❤
Stay safe, stay healthy, and stay happy!






Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
Kembali lagi dalam pereview-an film yang ketiga, kali ini Qorin akan "Review Film 2 Garis Biru (2019)" nih fellas. Untuk melihat review-review film sebelumnya dengan kaitannya psikopatologi silahkan pilih kategori "Psy Talks" yaa.
Yuk, kita mulai pembahasannya..


Mengenai Film 2 Garis Biru
Film yang disutradarai oleh Gina S. Noer ini berkisah tentang kekecauan dari hamil diluar pernikahan yang dialami Dara yang diperankan oleh Adhisty Zara dan Bima yang diperankan oleh Angga Yunanda. Dalam filmnya sendiri berceritakan Dara adalah siswi berprestasi di sekolah yang bermimpi melanjutkan kuliah ke Korea karena terinspirasi kecintaannya pada K-Pop. Sementara Bima adalah siswa dengan prestasi biasa saja namun baik hati dan sopan. Dara dan Bima juga berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda. Dara lahir dari keluarga kelas menengah sedangkan Bima berasal dari keluarga kelas bawah dan tinggal di perkampungan padat penduduk. 

Suatu hari, Dara dan Bima berpacaran melebihi batas hingga Dara pun hamil. Bima akhirnya meminta Dara menggugurkan kandungannya tapi Dara menolak. Mereka lantas memutuskan menyembunyikan kehamilan hingga kelulusan SMA yang tinggal beberapa bulan lagi. Tapi peristiwa lemparan bola yang tak sengaja mengenai perut Dara membongkar rahasia kehamilan ini. Orangtua Dara dan Bima pun dipanggil oleh pihak sekolah. Dara dikeluarkan dari sekolah sementara Mamanya (Lulu Tobing) juga tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan puterinya. Dara kemudian diboyong oleh keluarga Bima pulang ke rumah mereka. Tak lama berselang, Mama Dara pun luluh dan Dara kembali dibawa pulang ke rumah orangtuanya. Tapi tanpa diketahui Dara, Mamanya ternyata berniat memberikan bayinya pada orang lain jika nantinya telah lahir. Konflik pun terjadi, Dara menentang rencana mamanya. Bima juga menentang hal ini dan orangtuanya mendesak untuk segera menikahi Dara agar mereka tak kehilangan cucu. (Source sinopsis : Kompas.com)

Source : Pinterest
Apa yang Dapat Dikupas?
Sebagaimana yang kita ketahui, sex bebas di negara kita masih merupakan hal yang abnormal berbeda dengan negara-negara di luar sana yang mana sex bebas menjadi hal yang normal dan biasa saja. Pada film ini, tentunya menunjukkan adanya sex bebas pada Dara dan Bima karena terpengaruh hasrat mereka yang tidak dapat dikontrol. Mereka berdua sebenarnya juga tau bahwa tindakan tersebut bukanlah tindakan terpuji. Mengingat Bima juga merupakan anak yang baik dan sopan juga didikan orang tuanya yang baik pula. Sayangnya karena hasrat mereka, menyebabkan suatu kesalahan yang fatal hingga menyebabkan Dara hamil.

Dilihat dari ciri-ciri masa remaja menurut Hurlock yaitu salah satu cirinya masa remaja sebagai periode usia yang menimbulkan ketakutan sangat relate dengan apa yang terjadi pada film ini. Karena memang pada masa remaja ini perlu selalu mendapat pengawasan dari orang tua agar tidak seenaknya sendiri yang dapat menyebabkan berperilaku merusak.

Lagi-lagi, memang peran orang tua sangat penting bagi anak-anaknya yang sedang memasuki masa remaja. Perlu adanya pengawasan, bimbingan dalam tugas-tugas perkembangannnya juga dalam kasus di film tentunya perlu adanya sex-education. Hal ini dapat membantu anak untuk tidak seenaknya sendiri melakukan hal-hal yang dia mau dan suka terutama dalam sex bebas. Pada filmnya sosok Bima bisa dikatakan sosok yang bertanggung jawab, walau diawal-awal saat mengetahui dara hamil dan menyuruhnya untuk menggugurkannya. Tapi, pada akhirnya Bima bersedia untuk bertanggung jawab hingga menikahi Dara walau diakhir filmnya Dara memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya dan meninggalkan anaknya pada Bima dan keluarganya. 

So, itu dia pembahasan singkat pada review film kali ini.
Sampai bertemu ditulisan selanjutnya yaa❤
Stay safe, stay healthy, and stay happy fellas!



Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

Hello.. Qorin Here

Hello.. Qorin Here
a woman who has lots of dreams. Hope you enjoy 'ur reading everyone ❤

Follow Me

  • instagram
  • soundcloud
  • Google+
  • steller

Categories

  • BLOG
  • POEMS
  • PSY TALKS
  • STORIES

Blog Archive

  • September 2018 (3)
  • October 2018 (1)
  • March 2019 (3)
  • August 2019 (1)
  • September 2019 (1)
  • December 2019 (1)
  • January 2020 (1)
  • February 2020 (1)
  • May 2020 (1)
  • July 2020 (1)
  • September 2020 (2)
  • October 2020 (4)
  • November 2020 (2)
  • January 2021 (8)
  • June 2023 (1)
  • September 2024 (1)

Total Pageviews

Translate

Blogger Perempuan

Created with by ThemeXpose